BAB II HAK CIPTA di LEMBAGA PENDIDIKAN/PERPUSTAKAAN

Jika pada bab satu kita telah mengetahui apa itu HKI dan manfaat perlunya HKI. Maka, pada bab dua ini, hal yang menjadi pokok pembahasannya adalah masalah-masalah HKI dan Hak Cipta dalam penyikapannya terhadap dunia pendidikan dan perpustakaan yang sering menjadi masalah, jika kita sebagai pustakawan atau pengguna tidak mengetahui aturan-aturan pengecualian tersebut.

Kegiatan lembaga-lembaga pendidikan dan perpustakaan berkaitan dengan upaya untuk mencerdaskan bangsa melalui penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi atau informasi. Hukum hak cipta di berbagai negara, termasuk Indonesia mengatur secara khusus tentang penggunaan hak cipta oleh atau melaui lembaga-lembaga tersebut. Hal diatas disebabkan adanya kepentingan yang berbeda diantara pencipta dan pengguna Hak Cipta atau lembaga-lembaga tersebut.

Di satu pihak pencipta berkepentingan agar pengaturan hukum hak cipta sedapat mungkin mampu menjamin kepentingan ekonominya melalui pendapatan yang cukup dari kegiatan komersialisasi ciptaannya. Namun, di sisi lain, pengguna hak cipta dan lembaga-lembaga pendidikan/perpustakaan berkepentingan agar pengaturan hukum hak cipta dapat menjamin misi sosialnya berupa kemudahan dalam penyebaran informasi dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia atau mencerdaskan bangsa. Hal ini adalah masalah yang sering timbul dalam perancangan undang-undang hak cipta. Masalahnya adalah menentukan keseimbangan diantara pencipta dan konsumen. “Perbedaan penekanan pada masing-masing kepentingan di atas telah melahirkan variasi dalam pengaturan hak cipta di berbagai negara,” demikian Sanusi Bintang.

Di dalam Undang-undang Hak Cipta (UUHC) pengaturan khusus tersebut diatur pada pasal 14 yang memberikan pengecualian untuk dapat menggunakan ciptaan secara bebas dengan mengikuti ketentuan yang sudah di atur dalam UU tersebut. Terkait dengan kegiatan lembaga pendidikan/perpustakaan, sebuah hasil karya boleh digunakan dengan syarat mencantumkan  sumbernya. Selain itu UUHC juga membolehkan penyebarluasakan hasil karya tersebut, asal memperhatikan beberapa hal di dalam pasal ini. Berikut salinannya:

ü      Penggunaan ciptaan pihak lain untuk keperluan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan penulisan kritik dan tinjauan suatu masalah dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar bagi pencipta (a).

ü      Pengambilan ciptaan orang lain baik seluruhnya maupun sebagian guna keperluan (c):

I. Ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

ü      Perbanyakan suatu ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni dan satra dalam huruf Braille guna keperluan tunanetra, kecuali jika perbanyakan itu bersifat komersial (d).

ü      Perbanyakan suatu ciptaan selain program komputer oleh pemilik program komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apapun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan, dan pusat dokumentasi yang non komersial, semata-mata untuk keperluan aktivitasnya (e).

ü      Pembuatan salinan cadangan suatu program komputer oleh pemilik program computer dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri (g).

Sanusi Bintang dalam bahan ajarnya mengatakan jika keseluruhan isi pasal 14 UUHC yang dikutip diatas berkaitan dengan tugas lembaga pendidikan/perpustakaan dalam menyediakan informasi/ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Beliau juga menjelaskan, jika bunyi angka-angka pasal tersebut masih bersifat abstrak atau ukuran kualitatif yang sulit dipahami mereka masyarakat umum yang bukan sarjana hukum. “UUHC tidak menjelaskan secara rinci misalnya berapa halaman dari sebuah buku dapat dikutip sebagaimana disebutkan dalam huruf a.”

Selain itu, perbedaan mendasar juga terjadi pada UUHC tahun 1997 ini. Jika dibandingkan dengan ketentuan UUHC tahun 1987 yang masih memakai ukuran yang tegas pemakaian hanya sebesar 10%, maka di UU ini pemakaian tersebut telah dihapuskan karena sulit diterapkan. Karena penggunaan hasil karya seseorang berbeda-beda di setiap kasus yang terjadi.

UUHC juga tidak merinci dengan jelas berapa eksemplar lembaga pendidikan/perpustakaan dapat menduplikasikan atau mengkoleksi bahan pustaka. Huruf e, seperti dijelaskan oleh Sanusi Bintang, hanya menentukan “secara terbatas” yang juga disebutkan dalam huruf a, yang apabila terjadi perselisihan maka penyelesaian yang ditempuh adalah pengadilan. Pengadilan juga yang menilai kasus tersebut, karena UUHC 1997 sendiri tidak memberikan ukuran yang berlaku umum.

Dari ketentuan pasal 14 huruf e di atas, jelaslah terlihat bahwa lembaga-lembaga tertentu bebas melakukan perbanyakan dengan cara atau alat apapun atau proses serupa, termasuk mengfotokopi. Jumlah-jumlah lembaga tersebut terbatas, sehingga tidak dapat ditambah dengan lembaga lain yang berada di luar area tersebut. Lembaga-lembaga tersebut adalah:

a)      Perpustakaan Umum

b)      Lembaga Ilmu Pengetahuan atau Pendidikan

c)      Pusat Dokumentasi yang Non Komersial

Pembatasan yang diberikan kepada lembaga tersebut hanyalah berdasarkan criteria sebagai berikut:

1)      Semua ciptaan, kecuali program computer

2)      Secara terbatas

3)      Semata-mata untuk keperluan aktivitasnya

Dengan pengaturan seperti ini sudah cukup akomodatif terhadap lembaga pendidikan/perpustakaan dengan memberikan fasilitas yang mendukung tugas-tugas penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan.

Iklan
Published in: on 25 Desember 2009 at 13:57  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://mugiwaranonakama.wordpress.com/2009/12/25/bab-ii-hak-cipta-di-lembaga-pendidikanperpustakaan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: