Menjadi Cerdas dengan Kertas

Oleh: Dr. Ing. Fahmi Amhar

Disalin kembali dari Media Umat

Pameran buku (Book Fair) adalah ajang yang ditunggu-tunggu baik oleh para penerbit, distributor maupun penggemar buku.  Meski demikian konsumsi buku per orang di Indonesia masih tergolong sangat rendah.  Bagi sebagian besar masyarakat kita, harga buku masih tergolong tinggi dibanding tingkat penghasilan.  Jadilah masyarakat kita bukan masyarakat pembaca.  Minat baca mereka rendah dibanding menonton televisi.  Sebenarnya tidak jadi soal bila siaran televisinya bermutu.  Namun semua orang tahu bahwa siaran televisi kita belum cukup edukatif, apalagi inspiratif.  Televisi kita sarat dengan tayangan gossip, pornografi, kekerasan ataupun mistik.  Bisa dinikmati bebas tanpa membayar.  Yang jelas hasilnya tidak membuat penonton bertambah cerdas.

Lain dengan buku.  Mahalnya buku antara lain disebabkan oleh tingginya harga kertas.  Kebutuhan kertas kita masih harus dipenuhi dengan kertas impor.  Meski kita memiliki sumber daya alam yang cukup untuk menghasilkan kertas, namun realitanya kita lebih suka mengekspor bahan mentah seperti kayu dan membeli hasil olahannya berupa kertas, dengan harga berlipat-lipat.  Padahal generasi awal kaum muslim telah bersusah payah pergi ke Cina untuk dapat merebut teknologi pembuatan kertas.

Mesin Kertas Jaman Dahulu (atas) dan Jman Sekarang (Bawah)

Tidak ada yang menyangkal bahwa kertas ditemukan dan lalu diproduksi massal pertama kali di Cina pada tahun 105 M, ketika kertas dibuat dari semak murbei.  Juga diriwayatkan bahwa tentara Cina sering menghancurkan pusat-pusat pembuatan kertas non Cina untuk tetap memegang monopoli pabrikasi kertas di dunia.  Namun akhirnya pabrik kertas muncul di dunia Islam yakni di kota Samarkand pada abad ke-2 H (ke 8 M).  Meski rahasia pembuatan kertas secara manual telah diketahui di era sahabat sejak sejumlah orang nekad mencarinya ke Cina, namun dalam skala industri, pabrik kertas itu baru dimulai setelah ada sejumlah orang Cina yang menjadi tawanan perang di Sungai Talas tahun 750 M.  Al-Qazwini mengabarkan bahwa sejak itu terjadilah revolusi pengetahuan di dunia Islam.  Bahan-bahan tulis-menulis bebas dari monopoli dan kertas menjadi barang yang sangat murah.

Di Baghdad saja di akhir abad-3 H (abad-9 M) terdapat lebih dari seratus kompleks tempat pembuatan buku.  Perpustakaan pribadi berlimpah, sementara perpustakaan umum tersedia di mana-mana.  Baghdad memiliki tak kurang dari 36 perpustakaan umum pada waktu penghancuran oleh Tartar Mongol tahun 1258.

Sejarahwan George Sarton mengutarakan bahwa asal kata paper  kemungkinan besar dari bahasa Arab.  Dalam bahasa Arab tidak ada kata tunggal untuk kertas, termasuk antara lain ‘papyrus’.  Jejak lain bahasa Arab dalam industri kertas adalah kata ream  (dalam bahasa Inggris) atau risma  (dalam bahasa Italia) yang dipastikan berasal dari bahasa Arab rismah, yang artinya setumpuk atau sebundel kertas, biasanya terdiri dari 500 lembar.

Ibnu Badis di Kitab ‘Umdat al-Kuttab (Buku Penunjang untuk para Penulis) menjelaskan metode pembuatan kertas dari rami dengan proses perendaman di air kapur selama beberapa hari, diselang dengan peremasan dan penjemuran.  Rami yang telah memutih lalu dipotong-potong, direndam di air tawar lalu digerus dengan mortar.  Hasilnya llau dicetak, diratakan, lalu dibiarkan kering. Kertas yang telah setengah jadi dilewatkan dalam larutan tepung kemudian digosok dengan bambu.

Tentu saja proses ini bukan satu-satunya cara, namun Ibnu Badis sepertinya ingin mengajarkan teknik membuat kertas yang bisa dikerjakan sendiri di rumah.  Bukunya juga memuat cara membuat tinta sampai cara menjilid buku.  Untuk skala industri tentu saja dibutuhkan perlengkapan yang lebih besar dan mekanik.

Sejarahwan Dard Hunter mengatakan bahwa inovasi utama orang Islam dalam teknologi kertas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.            Penemukan cetakan bambu di mana lembaran kertas basah ditempatkan untuk dikeringkan.  Metode ini masih digunakan hingga sekarang, tentu saja tidak lagi dengan bambu namun dengan silinder logam atau karet yang sangat besar.

2.            Penggunaan bahan rami, katun serta perca linen dalam pembuatan kertas.  Ini adalah penemuan yang amat penting, karena orang Cina membuat kerrtas dari kulit batang pohon murbei yang tidak terdapat di daerah Muslim.

3.            Untuk pembuatan beberapa jenis kertas, orang-orang Islam mengurai perca linen dengan menempatkannya dalam tumpukan, menjenuhkannya dengan air lalu membiarkan fermentasi terjadi.  Ini alternatif dari proses air kapur yang dijelaskan Ibnu Badis.

4.            Orang-orang Islam mencoba meniru kertas perkamen yang kuat (namun mahal) dengan menajin (mengkanji) kertas menggunakan tepung terigu, suatu inovasi yang menyebabkan permukaan kertas lebih menyenangkan untuk ditulis dengan tinta.

5.            Penggunaan roda martil untuk menghancurkan kertas sehingga membutuhkan tenaga kerja lebih sedikit daripada proses yang dipakai di Cina.

6.            Pemakaian kincir air untuk menjalankan roda pabrik kertas.  Sejarahwan Robert Forbes menyebutkan bahwa pada abad-10 M pabrik kertas terapung banyak dijumpai di Sungai Tigris di Baghdad.  Kincir memang telah dikenal sejak zaman Romawi, tetapi hanya digunakan menggiling makanan.  Orang Islamlah yang pertama kali memakai kincir untuk membuat kertas.

Berbagai jenis kertas dibuat.  Ada yang untuk dokumen dan surat-surat resmi, untuk buku, bahkan untuk bungkus.  Al-Qalqasyandi mengatakan bahwa kerrtas Baghdad (al-Baghdadi) merupakan yang terbaik mutunya dan digunakan untuk menulis risalah kekhalifahan.  Syami (kertas Syria) juga tersedia dalam berbagai tingkatan mutu, salah satanya Hamwi dari kata Hama (kota di Syria) yang lazim digunakan di lembaga pemerintahan.  Ada juga kerta yang amat ringan, dipakai untuk mengirim surat yang diantar burung merpati pos, sehingga disebut ‘Kertas Burung’.

Kertas dibuat dalam berbagai warna.  Pada suatu manuskrip dapat dibaca berbagai ramuan tentang cara membuat warna seperti merah, hijau, tosca, dan bahkan petunjuk bagaimana membuat kertas terlihat usang.

Adalah hal yang ironis bahwa saat ini kaum muslim tak lagi berada di jajaran terdepan dalam teknologi kertas.  Kertas untuk mencetak kitab suci al-Qur’an dan kertas untuk mencetak uang negara-negara muslim pun banyak diimpor dari negara kafir, lengkap dengan mesin cetak dan tintanya.  Tanpa kertas, bagaimana mau cerdas?

Iklan
Published in: on 15 April 2010 at 18:25  Comments (1)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://mugiwaranonakama.wordpress.com/2010/04/15/menjadi-cerdas-dengan-kertas/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Harga kertas makin mahal, dan memproduksi kertas membutuhkan sumber daya yang didapatkan dari alam.
    Dengan adanya ebook, penggunaan kertas dapat dikurangi.

    salam

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/16/and-i-am-the-one-who-want-to-be-with-you/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: