MENGUPAS TUNTAS PORNOGRAFI

Oleh: Mugiwara No Nakama

A. Definisi Pornografi

Menurut Abu Al-Ghifari (2004), pornografi berasal dari kata yang diambil dari bahasa Yunani, yaitu “Porne” dan “Graphien.” Porne berarti wanita jalang dan Graphien berarti tulisan. Dalam pengertian yang lebih luas, pornografi berarti tulisan, gambar, lukisan, tayangan audio-visual, pembicaraan dan gerakan-gerakan tubuh yang membuka anggota tubuh tertentu secara vulgar yang semata-mata untuk menarik perhatian lawan jenis[i].

Sedangkan menurut RP Borrong dalam tulisannya di laman Lembaga Sabda[ii] menjelaskan bahwa kata pornografi, berasal dari dua kata Yunani, “Porneia” yang berarti seksualitas yang tak bermoral atau tak beretika (sexual immorality) atau yang popular disebut sebagai zinah; dan kata “Grafe” yang berarti kitab atau tulisan. Kata kerja porneuw (porneo) berarti melakukan tindakan seksual tak bermoral (berzinah = commit sexual immorality) dan kata benda pornh (porne) berarti perzinahan atau juga prostitusi. Rupanya dalam dunia Yunani kuno, kaum laki-laki yang melakukan perzinahan, maka muncul istilah “pornoz” yang artinya laki-laki yang melakukan praktik seksual yang tak bermoral. Tidak ada bentuk kata feminin untuk porno. Kata grafh (grafe) pada mulanya diartikan sebagai kitab suci, tetapi kemudian hanya berarti kitab atau tulisan.

Ketika kata itu dirangkai dengan kata porno menjadi pornografi, maka, lanjut Borrong, yang dimaksudkannya adalah tulisan atau penggambaran tentang seksualitas yang tak bermoral, baik secara tertulis maupun secara lisan. Maka sering anak-anak muda yang mengucapkan kata-kata berbau seks disebut sebagai porno. Dengan sendirinya tulisan yang memakai kata-kata yang bersangkut dengan seksualitas dan memakai gambar-gambar yang memunculkan alat kelamin atau hubungan kelamin adalah pornografi.

Borrong melanjutkan, “Pornografi umumnya dikaitkan dengan tulisan dan penggambaran, karena cara seperti itulah yang paling banyak ditemukan dalam mengekspos masalah seksualitas. Akhir-akhir ini dalam masyarakat kita ada istilah baru yaitu porno aksi. Yang dimaksudkan kiranya adalah penampilan seseorang yang sedikit banyak menonjolkan hal-hal seksual, misalnya gerakan-gerakan yang merangsang atau cara berpakaian minim yang menyingkap sedikit atau banyak bagian-bagian yang terkait dengan alat kelamin, misalnya bagian dari paha. Tetapi tidak semua penonjolan atau penyingkapan itu dapat disebut sebagai porno aksi, sebab di kolam renang misalnya, memang “halal” bagi siapapun untuk berpakaian mini, bahkan memang dengan hanya berbusana bikini (pakaian renang yang hanya menutup alat kelamin). Jadi soal porno aksi itu sangat relatif, tergantung motivasi manusianya.”

Secara garis besarnya, RP Borrong merangkum lima (5) poin untuk menjelaskan makna dari pornografi. Berikut penjelasannya[iii]:

  1. tulisan, gambar/rekaman tentang seksualitas yang tidak bermoral,
  2. bahan/materi yang menonjolkan seksualitas secara eksplisit terang-terangan dengan maksud utama membangkitkan gairah seksual,
  3. tulisan atau gambar yang dimaksudkan untuk membangkitkan nafsu birahi orang yang melihat atau membaca,
  4. tulisan atau penggambaran mengenai pelacuran, dan
  5. penggambaran hal-hal cabul melalui tulisan, gambar atau tontonan yang bertujuan mengeksploitasi seksualitas.

Berdasarkan definisi tersebut, maka kriteria porno dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Sengaja membangkitkan nafsu birahi orang lain.
  2. Bertujuan merangsang birahi orang lain/khalayak.
  3. Tidak mengandung nilai (estetika, ilmiah, pendidikan).
  4. Tidak pantas menurut tata krama dan norma etis masyarakat setempat, dan
  5. Bersifat mengeksploitasi untuk kepentingan ekonomi, kesenangan pribadi, dan kelompok.

Dari pengertian dan kriteria di atas, baik Borrong maupun Abu Al-Ghifari sama-sama menyebutkan jika kini pornografi sudah memiliki banyak jenisnya, seperti yang tertera di bawah ini:

  1. Tulisan berupa majalah, buku, koran dan bentuk tulisan lain-lainnya.
  2. Produk elektronik misalnya kaset video, VCD, DVD, laser disc.
  3. Gambar-gambar bergerak (misalnya “hard-r“).
  4. Program TV dan TV cable.
  5. Cyber-porno melalui internet.
  6. Audio-porno misalnya berporno melalui telepon yang juga sedang marak diiklankan di koran-koran maupun tabloid akhir-akhir ini.

B. Pornografi dan Etika

Jika dipandang dari sudut pandang etika, tentu saja pornografi adalah sebuah perbuatan yang tidak pantas menurut tata karma dan norma etis yang berlaku di dalam lingkungan masyarakat setempat, seperti yang dijelaskan oleh RP Borrong diatas, dan tentu saja, perbuatan ini tidak mengandung nilai etika. Selain itu, pornografi memiliki dampak negatif yang besar bagi setiap individu, apakah itu anak-anak hingga orangtua.pornografi secara garis besar bisa menyebabkan kerusakan otak dan mental, bahkan, berujung kepada hilangnya nyawa[iv].

Abu Al-Ghifari[v] menjelaskan kepada kita, jika diperinci satu persatu, bahaya pornografi ini diantaranya:

  1. Memberikan fatamorgana negatif dalam daya khayal remaja yang berakibat mereka tersiksa dari sudut mental. Hal ini lebih disebabkan, biasanya, mereka para penikmat atau konsumen pornografi adalah dalam usia yang belum menikah, sehingga mereka tidak dapat menyalurkannya dan hal ini tentu saja akan membawa kepada perbuatan-perbuatan yang melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat, atau yang disebut dengan zina.
  2. Efek negatif kedua adalah mengganggu proses berpikir kreatif, terutama bagi para pelajar.
  3. Mendorong lebih jauh untuk tahu kepada hal-hal yang bersifat porno.
  4. Menimbulkan sikap permisif. Maksudnya adalah, konsumen pornografi biasanya lebih agresif menarik lawan jenisnya (gonta-ganti pasangan).
  5. Dan yang terakhir adalah pornografi dapat menimbulkan prilaku seks bebas di dalam masyarakat.

Hal yang sama, juga diutarakan oleh RP Borrong di dalam tulisannya yang sama. Ada tiga dampak yang diutarakan olehnya, yaitu:

Karena pornografi terkait dengan bisnis, maka dampaknya bagi masyarakat sangat luas, baik psikologis, sosial, etis maupun teologis. Secara psikologis, pornografi membawa beberapa dampak. Antara lain, timbulnya sikap dan perilaku antisosial. Selain itu kaum pria menjadi lebih agresif terhadap kaum perempuan. Yang lebih parah lagi bahwa manusia pada umumnya menjadi kurang responsif terhadap penderitaan, kekerasan dan tindakan-tindakan perkosaan. Akhirnya, pornografi akan menimbulkan kecenderungan yang lebih tinggi pada penggunaan kekerasan sebagai bagian dari seks. Dampak psikologis ini bisa menghinggapi semua orang, dan dapat pula berjangkit menjadi penyakit psikologis yang parah dan menjadi ancaman yang membawa bencana bagi kemanusiaan.

Dilihat dampak sosialnya, dapat disebutkan beberapa contoh, misalnya meningkatnya tindak kriminal di bidang seksual, baik kuantitas maupun jenisnya. Misalnya sekarang kekerasan sodomi mulai menonjol dalam masyarakat, atau semakin meningkatnya kekerasan seksual dalam rumah tangga. Contoh lain ialah eksploitasi seksual untuk kepentingan ekonomi yang semakin marak dan cenderung dianggap sebagai bisnis yang paling menguntungkan. Selain itu, pornografi akan mengakibatkan semakin maraknya patologi sosial seperti misalnya penyakit kelamin dan HIV/AIDS. Dapat ditambahkan bahwa secara umum pornografi akan merusak masa depan generasi muda sehingga mereka tidak lagi menghargai hakikat seksual, perkawinan dan rumah tangga.

Dari segi etika atau moral, pornografi akan merusak tatanan norma-norma dalam masyarakat, merusak keserasian hidup dan keluarga dan masyarakat pada umumnya dan merusak nilai-nilai luhur dalam kehidupan manusia seperti nilai kasih, kesetiaan, cinta, keadilan, dan kejujuran. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan masyarakat sehingga tercipta dan terjamin hubungan yang sehat dalam masyarakat. Masyarakat yang sakit dalam nilai-nilai dan norma-norma, akan mengalami kemerosotan kultural dan akhirnya akan runtuh dan khaos.

Selain itu, secara rohani dan teologis dapat dikatakan bahwa pornografi akan merusak harkat dan martabat manusia sebagai citra sang Pencipta/Khalik yang telah menciptakan manusia dengan keluhuran seksualitas sebagai alat Pencipta untuk meneruskan generasi manusia dari waktu ke waktu dengan sehat dan terhormat.”

C. Pornografi, Islam dan Kebebasan Berekspresi (Liberalisme)

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin telah mengatur hubungan antara pria dengan wanita dalam koridor aturan (norma-norma) yang jelas. Karena, dalam pandangan Islam, hubungan antara lawan jenis ini adalah sebuah kebutuhan naluriah manusia, termasuk naluri mempertahankan keturunan (gharizatun nau’). Dengan demikian, hubungan atara seorang pria dan wanita didasarkan atas pernikahan. Apabila seorang laki-laki ingin membangun hubungan dengan seorang wanita, maka ia harus menikahinya. Islam membolehkan seorang laki-laki untuk menikahi sampai empat orang perempuan, asalkan semua istrinya diperlakukan secara adil.

Islam menciptakan suatu lingkungan yang islami bagi kaum laki-laki dan kaum perempuan, dimana kehormatan dan kesopanan bagi kedua belah pihak mendapatkan penjagaan dan perlindungan di tengah-tengah masyarakat. Islam mjenciptakan suasana yang penuh dengan kesopanan, tidak hanya dengan jalan mewajibkan pemakaian busana, tetapi juga dengan peraturan “menahan pandangan” bagi kaum laki-laki dan perempuan.

Dalam hal dengan penyebaran pornografi, Islam juga mengaturnya dengan jelas. Karena ini terkait dengan kesopanan dan upaya melindungi masyarakat dari kerusakan mental dan jiwanya. Dalam buku “Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian di dalam Islam,[vi]” menjelaskan bahwa jika seseorang itu terbukti mencetak dan menjual, atau menyimpan dengan maksud untuk menjual atau menyebarkan, atau menawarkan benda-benda perhiasan yang dicetak atau ditulis dengan tangan, atau foto-foto dengan gambar porno, atau benda-benda lain yang dapat menyebabkan kerusakan akhlak, maka pelakunya akan dikenakan sanksi penjara sampai enam bulan.

Dan bagi orang yang terbukti berzina, baik laki-laki dan perempuan, maka keduanya akan dirajam. Sesuai dengan firman Allah SWT di dalam surah An-Nur: 2:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” (TQS An-Nur [24]: 2).

Dari Ubadah bin Shamit berkata, Rasulullah saw bersabda: “Ambillah dariku, ambillah dariku, sungguh Allah akan menjadikan jalan bagi mereka. Jejaka dengan perawan jilidlah seratus (100) kali dan asingkanlah selama satu tahun. Untuk janda dan duda jilidlah 100 kali dan rajamlah.”

Jika kita menilik dalam kacamata Liberalisme, maka selama perbuatan itu tidak mengganggu pribadi, maka pornografi adalah hal yang dibolehkan. Bahkan, banyak Negara di Barat yang hidup dari industri pornografi ini, yakni lewat pajaknya, seperti Amerika Serikat. Bagi kalangan penolak UU Pornografi, mereka banyak mengajukan dalih, seperti kebebasan berprilaku, pornografi adalah seni, dan jika UU ini disahkan maka ini akan menimbulkan separatisme. Padahal nyatanya tidak. Malah, mereka yang menolak UU ini adalah secara langsung telah menolak demokrasi di negeri. Alasan mereka menolak ini adalah wajar karena jika UU ini disahkan maka otomatis industri “esek-esek” dan para pekerjanya bakal gulung tikar. Dan ini sangat merugikan mereka. Oplah yang dihasilkan dari industri ini milyaran rupiah bahkan triliunan. Seperti kasus video mirip artis terkenal beberapa waktu lalu, yang dapat menghasilkan sebesar Rp 17, 6 milyar. Itu baru versi unduh berbayarnya saja!

Begitupun dengan klaim kaum Feminis, bahwa UU ini akan memarjinalkan kaum perempuan, padahal tidak, justru ini akan melindungi mereka dari tindakan eksploitasi dan melindungi harkat martabat kaum perempuan. Meskipun UU ini belumlah bekerja secara efektif, karena masih memiliki banyak kecatatan di dalamnya. Klaim kaum Feminis ini juga sama terhadap penegakan syariat Islam, padahal Islamlah pelindung sejati kaum wanita. Bagaimana saat seorang wanita dilecehkan oleh orang Yahudi, Rasulullah Muhammad saw, langsung membatalkan perjanjian dengan kaum Yahudi dan menghukum orang Yahudi tersebut. dan bagaimana seorang Khalifah pada masa Kekhilafan Abbasiyah, yang mengutus para tentaranya untuk memerangi orang Romawi yang melecehkan seorang wanita, sehingga daerah Romawi itu takluk ke dalam pangkuan Negara Islam saat itu.

D. Pornografi adalah Agenda Jahat Illuminati

Siapa Illuminati. Illuminati adalah organisasi Yahudi Kabbalah yang didirikan oleh Adam Weishaupt dan Mayer Amshell Rothschild, seorang pengusaha Yahudi kaya raya pada 1 Mei 1776. Organisasi ini hampir menyerupai Freemasonry dalam hal pergerakannya. Bedanya, jika Freemason mempunyai struktur yang bisa dikenali sebagai sebuah organisasi, maka, tidak demikian dengan Illuminati. Terkait pembahasan Illuminati ini silahkan baca buku Knights Templar Knights of Christ (Pustaka Al-Kautsar, 2006).

Hal ini juga diakui oleh peneliti Illuminati bernama Henry Makow, PhD di website pribadinya[vii]. Berikut petikan tulisannya yang telah penulis terjemahkan:

Porno tersedia secara luas di internet secara gratis, penulis tidak dapat mempercayai jika banyak orang membayar untuk hal ini. Ya, benar, di Amerika Serikat (AS) sendiri industri porno meraih keuntungan sebesar 12 milyar dolar pertahunnya, diantaranya diwakili oleh situs internet sebesar 2.5 milyar dolar.

Penulis menduga, industri porno ini mendapatkan subsidi yang diberikan oleh lluminati sehingga itu menjadi gratis. Subsidi ini diambil dari bentuk money laundering. Industri porno melayani fungsi vital dari Illuminati. Kita mengetahui jika mereka ingin memperbudak kita menggunakan dosa, mind control dan false flag terror. Tetapi kita tidak terlalu perduli mereka menggunakan sebuah program yang disengaja untuk memperbudak kita secara spiritual menggunakan seks.

Menggunakan cara lain, Illuminati adalah penyembah setan yang berdasarkan Yahudi Kabbalah. Bagian dari sejarah “modern” dan budaya yang telah di desain untuk memasukkan umat manusia ke dalam ritual pemujaannya.

Jika kita memeriksa cara pemujaan ini secara lebih teliti, kita melihatnya adalah sebuah ritual pemujaan seks pagan. Kosmologinya membayangkan bahwa hubungan seks itu bagaimanapun akan meng-restore keharmonisan alam semesta. Dalam prakteknya, penyimpangan seksual ini adalah instrumen utama yang digunakan untuk memasukkan orang ke dalam Setanisme.

Kebebasan Seksual

Kita tidak suka berpikir tentangnya, tetapi saya takut “kebebasan seksual” adalah sebuah kelicikan.

Monogami dan keluarga adalah berfaedah dan kehidupan yang sah. Seks ditasbihkan untuk pernikahan. Pernikahan bertujuan adalah untuk menjalin hubungan suami dan istri untuk memberikan sebuah lingkungan yang baik bagi anak-anak.

“Kebebasan seksual” adalah langkah pertama yang penting kepada Setanisme. Hal ini mengurangi sebuah hubungan persaudaraan untuk lebih merendahkan seksual umat manusia yang pada waktu yang sama memompa nilai fisik seks kepada sebuah level mistik yang pura-pura.

Seks yang tidak memiliki nama adalah antithesis dari monogami dan keluarga. Seks tak bernama itu adalah norma. Kita akan menjadi terlengkapi dengan seksualisasi. Para pria, yang paling banyak adalah para wanita, berpikir dalam istilah dari “memukul” dan “melakukan” itu. Seks adalah obsesi yang menjemukan. Para wanita muda telah membuat sebuah jimat. Homoseksualitas adalah prilaku normal dan dipromosikan.

Kita telah dikondisikan untuk berpikir ini sebagai “ekspresi pribadi” dan “kebebasan.” Faktanya, itu adalah metodologi setanis. Itu adalah cara mereka merendahkan dan menghancurkan para anggota mereka, cara mereka memenangkannya dari kejahatan dewata mereka.

Melajunya dalam rangking yang lebih tinggi dari Freemasonry memerlukan sebuah serial dari meningkatnya penurunan (moral) dan praktik-praktik penyimpangan seksual, semuanya di desain untuk menolak dengan angkuhnya Tuhan dan alam (apa yang disebut sebagai kesehatan dan kebaikan).

Craig Heimbichner menulis di dalam Blood on the Altar, “pengetahuan rahasia dari Derajat Tinggi Freemasonry telah disaring oleh OTO ke dalam sebuah sistem dari derajat kesebelas… derajat kedelapan dan kesembilan terdiri dari sex magick (kedelapan meliputi “magical masturbation” dan kesembilan, [maaf, penj.] persenggamaan… saat kesebelas berisi sebuah versi homoseksual dari kesembilan.” (h. 88).

Tanpa disadari, kita telah dimasukkan ke dalam ritual pemujaan ini.

Crowley

Dalam bukunya Commentary on the Book of Laws, Alasdair Crowley menganjurkan sebuah “Thelmic candour” bagaimanapun para pria dengan bangga berkelakuan seperti binatang-binatang buas.

Dia membuktikan bahwa “incest, perzinahan dan pederasty: harusnya menjadi dipraktikkan secara terbuka tanpa “rasa malu, kerahasiaan, merasa pengecut atau kemunafikan.”

Crowley menuntut tidak ada lagi dari akhir masa kanak-kanak: “the Beast 666 memberitahukan bahwa semua anak-anak harus dibiasakan dari masa pertumbuhan untuk menyaksikan setiap jenis dari prilaku seksual…” (Craig Heimbichner, 113).

Ini mengambil tempat sebelum mata kita. Media dan sistem pendidikan adalah membawa keluar agenda setan Illuminati dengan ketundukkan pemerintahan.

Kesimpulan

Pornografi menjamin kita menghakimi orang-orang sebagai obyek-obyek peniru seks. Kehancurannya yang tidak dapat dihitung lagi telah dilakukan kepada hubungan antara pria dan wanita.

Itu adalah sebuah “mematikan” bukan sebuah “menghidupkan” bagi banyak pria. Banyak pria tidak memiliki apapun tetapi jijik bagi para wanita memperlihatkan asusila mereka sendiri, dan rasa jijik ini menyebar kepada setiap para wanita.

Ribuan gadis-gadis muda yang cantik telah membuat mereka merasa tidak cocok untuk menikah dan memiliki sifat keibuan.

Ini adalah seluruh bagian dari agenda yang tersembunyi dari pornografi. Tetapi hal yang lebih penting untuk di mengerti adalah: Kita di bawah sebuah serangan psikologi yang dilakukan terus menerus. Seks telah digunakan untuk memperbudak dan memasukkan kita ke dalam Setanisme. Ini adalah bagian yang luas dari apa yang kita sebut sebagai “modernisme.”

Untuk menetralisir serangan ini, kita harus menjauhkan diri dari pornografi dan seks yang tak bernama, antara di dalam kenyataan dan hayalan.”

NOTES:


[i] Abu Al-Ghifari, “Gelombang Kejahatan Seks Remaja Modern,” hal. 29-30.

[ii] RP Borrong, “Pornografi,” disalin dari Www.artikel.sabda.org/konseling.

[iii] Ibid.

[iv]Seorang pria yang mengalami gangguan jantung meregang nyawa saat menonton film porno. Chris Nicholls (23) meninggal dunia setelah tak kuasa menahan gejolak perasaan saat larut dalam tontonan film porno di kamar tidurnya.Chris Nicholls diketahui meninggal dunia akibat gagal jantung setelah sempat menjalani operasi jantung terbuka.

Chris Nicholls ditemukan sudah tak bernyawa oleh ibunya, Clare, di kediaman keluarga di Redhill, Surrey, Inggris. “Christopher terbaring di depan tayangan film biru saat kutemukan,” demikian diakui oleh Clare.

“Kemudian kukatakan ke suamiku bahwa aku menyadari apa yang telah terjadi. Film yang telah disaksikan Chris telah memompa adrenalinnya. Apakah hal itu telah mengakibatkannya gagal jantung?” tanya Clare pada ahli patologi Dr Mary Sheppard, yang memeriksa jenazah Chris.

Dr Sheppar menjawabnya: “Stress atau perasaan senang secara berlebihan karena faktor apapun dapat menimbulkan kemungkinan jantung berdetak secara tak teratur. Jadi, ya, bisa jadi film porno itu sebagai faktor penyebab kematian Chris.”

Chris terlahir dengan gangguan jantung turunan yang tak dapat disembuhkan secara total. Chris juga merupakan penyandang autis.Chris menjalani operasi jantung terbuka saat berusia 15 bulan dan kembali menjalani operasi karena serangan jantung pada April tahun ini.

Clare mengecam tindakan tenaga medis di Rumah Sakit Royal Brompton, London, tempat Chris menjalani operasi terakhir. Clare mengatakan: “Tak seorang pun di sana mengatakan resiko kematian yang dapat mengancam Chris. Saat aku menanyakan petunjuk untuk merawat Chris di rumah, mereka memandangiku seakan aku ini orang gila.”

(Kompas)

[v] Abu Al-Ghifari, ibid. hal. 115-117.

[vi] Abdurrahman Al-Maliki dan Ahmad Ad-Da’ur, “Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian di dalam Islam,” hal. 266.

[vii] Www.henrymakow.com

REFERENSI

1. Buku:

  • Abu Al-Ghifari. “Gelombang Kejahatan Seks Remaja Modern.” Bandung: Mujahid Press. 2004.

Buku ini membahas tentang pengaruh buruk kejahatan seks yang dilakukan oleh para remaja di dunia. Beserta perkembangannya yang terjadi hingga hari ini. Buku ini juga mencantumkan bahaya pornografi bagi para remaja kita.

  • Abdurrahman Al-Maliki dan Ahmad Ad-Da’ur. “Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian di dalam Islam (Terj).” Bogor: Pustaka Thariqul Izzah. 2004.

Buku ini membahas tentang hukum pembuktian dan sanksi yang diberlakukan oleh Islam dan buku ini menganjurkan pentingnya agama Islam dimasukkan ke dalam sistem pemerintahan, karena menurut buku ini, akar permasalahan umat manusia saat ini adalah karena sistem Sekulerisme (pemisahan agama dari Negara).

  • Henry Ford. “The International Jew: Membongkar Makar Zionisme Internasional (Terj)”. Jakarta: Penerbit Hikmah. 2006.

Buku ini membahas makar (rencana) jahat Konspirasi Yahudi Internasional di dalam mempengaruhi dan mencengkram Amerika Serikat dan dunia.

  • Jalal Al-Anshari (Ed). “Mengenal Sistem Islam dari A sampai Z (Terj).” Bogor: Pustaka Thariqul Izzah. 2004.

Buku ini adalah panduan bagi para pemula di dalam mengenal sistem peraturan hidup di dalam Islam, yang tidak hanya mengatur masalah ibadah ritual saja, tetapi juga kehidupan umat manusianya.

  • Muhsin Suny M. “Musuh Berwajah Ramah: Mewaspadai Pengaruh Negatif Televisi.” Bandung: Media Qalbu. 2005.

Buku ini mengupas tuntas sisi buruk televisi bagi anak-anak dan keluarga. Beserta solusi terhadap masalah ini.

  • Siti Muslikhati. “Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam.” Jakarta: Gema Insani Press. 2004.

Buku ini membedah secara objektif sebuah agenda milik bersama: Pemberdayaan Perempuan, dengan kecerdasan kemanusiaan yang tak lupa pada sangkan parannya, ialah ridha Sang Pencipta, tentunya.

  • _________. “Islam & Wanita: Dari Rok Mini Hingga Isu Poligami.” Bogor: Pustaka Thariqul Izzah. 2008.

Buku ini memaparkan pergulatan pemikiran dan isu-isu muslimah yang selama ini—secara sengaja—dikembangkan oleh para feminis dan para pegiat gender yang menjadi corong peradaban Barat ditengah-tengah masyarakat Muslim.

2. Media Cetak:

Media Umat. Edisi 12. 8-21 Mei 2009.

3. Online Source:

4. Referensi:

Http://id.wikipedia.org

5. Artikel:

  • Kholili Hasib, “Mengoreksi Tafsir Liberal dan Feminis tentang Wanita,” disalin dari Www.voa-islam.com.
  • Humaidi, “Sudah Longgar, Masih Dihajar,” Tabloid Media Umat, edisi 12, 8-21 Mei 2009.
  • Mujiyanto, “Islamophobia Jegal UU Pornografi,” Tabloid Media Umat, edisi 12, 8-21 Mei 2009.
  • ________, “Mereka yang Nongol Dipermukaan,” Tabloid Media Umat, edisi 12, 8-21 Mei 2009.
Iklan
Published in: on 2 Juli 2010 at 15:18  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://mugiwaranonakama.wordpress.com/2010/07/02/mengupas-tuntas-pornografi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: