“ANATA DAKE ZUTTO MITSUMETEIRU NO”

Oleh Mugiwara No Nakama

Kisah ini adalah fiksi. Nama, tempat, waktu kejadian/peristiwa, semuanya hanyalah rekayasa belaka . Jika terjadi kesamaan itu hanyalah kebetulan semata….

Cerpan ini terinspirasi dari lagu Shin Ai (Mizuki Nana), dorama Hana Yori Dango 1 & 2 terus versi movienya HYD Final, lagu Shasibi (OST. Final Fantasi), Sakura (Ikimono-gakari), Mendung kan Berganti (Mikha Tambayong), Menangis Tanpa Airmata (Gretha), Memeluk Bulan (Rossa), Opening Song & Ending Song Code Geass Lelouch Rebellion, Bungong Istana (Murad Sartiwa), Kon Salah Kanda (Cut Keumala Hayati), Pungo Mubayang (Ramlan Yahya), Kelembu Biru (Maimun), Aku dan Kenanganku (Second Civil), Bukan Cinta Biasa (Afghan), Puaskah (Wali Band), Ku Pasti Kembali (Pasto), Sea (YUI), I Remember You (YUI), Resiko Orang Cantik (Black Out), Next Level (Yu-Ki—OST Kamen Rider Kabuto), Gomenasai, Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa (Indah Dewi Pratiwi), Pilihan Hatiku (Lavina), Hari Bersamanya (Sheila On 7), Adam dan Hawa (Marsya) dan sebuah peristiwa tak terduga yang pastinya menyenangkan hati ini, yang takkan pernah terlupakan seumur hidup ^ ^ ….

Aku masih jelas mendengar tertawaan para berandalan itu terhadapku yang sudah kumal ini.

“Mugi, kau tidak apa-apa?” tanya Isra padaku. Ia lalu mendekatiku, berusaha untuk membantuku bangun.

“Minggir,” kataku sembari menangkis tangannya itu. “Aku gak butuh pertolonganmu,” kataku emosi. Aku bangkit sembari membersihkan debu di pakaianku dan di tas.

“Tapi….” Ia khawatir melihat keadaanku yang ketika berdiri sedikit goyang.

“Haahhhhh….. sudah cukup basa-basinya.” Aku mendekatinya. “Kau tau….,” sambil ujung jari telunjuk ini menunjuk tepat di wajahnya, matanya seperti mau menangis. “Kalian hanya bisa nyusahin kaum miskin aja, tahu! Dasar manusia bertopeng!” Aku pun langsung pergi. Aku tahu, di hati terdalamnya, ia memendam perasaan terhadapku, tapi, sayangnya aku tak bisa membalas cintanya.

“Sra ada apa?” kata Evrida temannya.

“Ah, gak ada apa-apa.”

“Oh… pasti karena Mugi kan?” sahut Evrida, “Udah lah Sra, cowok seperti itu gak usah lo ladenin. Yang ada malah bikin hatimu sakit ajah…. Biar mati saja sana dia… yok lah kita pulang.”

Aku telah sampai di rumah. Dan kini aku sedang mandi. Ingatan ini, entah kenapa, masih dibayangi oleh wajahnya. “Brengsek!” kataku sambil membuang gayung yang ada di tangan.

Seperti biasa, selesai masuk mata kuliah, dan di setiap jam istirahat kuliah, aku pergi ke taman fakultas. Langsung kubuka novel yang baru tadi kupinjam di perpustakaan kampus.

Di sisi lain taman, di pintu masuk ruang kuliah yang dekat dengan taman, tampak Isra yang hendak menghampiriku, ditangannya ia pegang rantang yang isinya nasi goreng. Ia tampak gembira, entah apa yang ada dipikirannya. Namun kini, tiba-tiba raut wajahnya sedikit berubah.

“Mugi…. Ini jam tanganmu, kemarin kulihat jatuh,” kata Sera sembari memberikan jam tangan itu kepadaku.

“Oh ya, terima kasih Ser.” Aku kembali diam dan Sera pun melihatku tak ada respon langsung menjauh dariku. Setelah Sera pergi, Isra pun menghampiriku.

“Mugi…”

“Iya apa lagi sih..” aku kaget. Rupanya ada dia di depanku, bukan lagi si Sera. “Ngapain lagi kamu kesini,” kataku sewot.

“Mugi tadi Sera datang ke tempatmu buat apa?” tanyanya padaku yang masih asik dengan novel Novus.

“Dia cuma mau ngasih jam tanganku yang jatuh kemarin,” jawabku datar.

Kami diam.

“Oh ya, Mugi,” sambungnya mencoba mengajakku bicara, “Ini… aku bawakan nasi goreng buatmu… Kamu pasti belum sarapan kan?” katanya sembari memberikan nasi goreng itu kepadaku. “Buatanku sendiri loh…” katanya senang karena aku menerima rantang yang berisi nasi goreng buatannya tersebut. Tapi…

Brakk! Rantangnya itu aku jatuhkan, nasi goreng pake udang goreng yang ia buat khusus untukku ini berhamburan keluar. Isra terkejut. Spontan airmatanya keluar, membasahi pipi beningnya itu. Aku pun segera pergi, namun, langkahku terhenti karena ada temannya menghadangku, Evrida.

“Mugi tunggu!” kata Evri kepadaku.

Aku masih berhenti, Evri menatapku lekat-lekat, sorot matanya tajam. “Sampai kapan kamu mau melukainya terus. Dia berusaha untuk mencintaimu, dia juga tahu kamu menentang bahkan tidak menyukai penggusuran itu. Isra pun seperti itu, tapi, ia benar-benar menyukaimu Mugi… sampai kapan kamu mau melukainya terus, hah?!”

“Halah kedok aja tuh….” Jawabku pada Evrida. “Dia melakukan seperti itu karena dia menginginkan lahan di daerah perumahan yang keluargaku tinggali sekarangkan?.Dia itu melakukan seperti itu karena memang seharusnya seperti itulah yang semestinya dilakukan. Sesuai dengan perintah bokapnya itu. Agar aku bisa keluar dari rumahku sendiri.”

Evrida masih menatapku lekat-lekat.

“Lagian apa sih urusanmu denganku, hah? Ataukah kamu dibayar oleh dia,” sembari menunjuk Isra yang berada di belakangku yang masih berdiri mematung, “Sehingga kamu mau melakukan hal seperti ini untuknya, hah?!”

PLAK! Tamparan Evrida cukup keras membuatku sedikit pening. Mahasiswa yang berada diseputaran taman itu jadi melihat ke arah kami semuanya. “Kamu…..” aku jadi tambah geram, ingin sekali kujambak rambutnya itu…

“Kenapa kau gak berusaha menyukainya sedikit saja Mugi,” mungkin ini adalah kata-kata yang terakhirnya yang akan diucapkan oleh Evrida langsung kepadaku, setelah ratusan kata yang telah diucapkannnya padaku agar aku bisa mengerti dan mengetahui sedikit saja perasaan sahabatnya itu.

Evrida adalah temanku sejak kecil. Ia juga korban sebuah penggusuran, bedanya, perusahaan yang dikelola ayahnya bangkrut dan terpaksa rumah megahnya itu diambil untuk bank karena tidak mampu melunasi hutang-hutang yang ada di bank. Dan Isra telah banyak membantu keluarganya keluar dari keterpurukan.

“Cukup, Ev! Kamu benar ia memang tidak pantas buatku.” Isra menarik tangan Evrida tanpa melihat wajahku dan membawanya pergi bersamanya ke ruang kuliah.

Sepulang sekolah, Isra menangis hebat di dalam kamarnya. Ia menangis karena diriku.

Rumah yang ditinggali oleh Isra dan keluarganya memang terbilang mewah di daerahku tinggal, rumah yang luas yang memiliki dua lantai. Rumah dua lantai itu cukup mewah, lagi-lagi, ini di daerahku tinggal. Ini adalah rumah asli milik orangtuanya. Rumah dinas tetap ada, tapi ia jarang pulang ke rumah dinas ayahnya tersebut.

“Ira, suruh adikmu berkemas, gih,” kata Ibunya pada kakaknya Ira. “Kita akan makan siang di rumah satunya lagi.” Maksud dari rumah yang satunya lagi itu adalah rumah dinas. Ibunya sendiri setiap hari pulang pergi rumah dinas-rumah sendiri untuk mengurus keperluan suaminya dan kedua anaknya tersebut. Hal ini disebabkan oleh, tidak hanya Isra, kakaknya sendiri malas pulang ke rumah dinas. Jika di rumah sendiri, jadi lebih asik, begitu pikir kakaknya dan dia.

“Iya, mak tunggu bentar,” jawab kakaknya tersebut yang sedang asik menonton sinetron siang.

Selama makan siang Isra hanya diam saja. Nasinya yang ada di piring tidak disentuh sedikitpun.

“Kenapa nak, nasinya kok gak disentuh?” tanya Ibunya melihat anak bungsunya seperti itu.

“Yah,” Isra mulai memberanikan diri untuk bicara.

“Ada apa Sra?” Ayahnya kembali melanjutkan makan.

“Bagaimana dengan pembuatan ruang hijau di jalan T Nyak Arief, apakah masih Ayah lanjutkan?” sahutnya.

Ayahnya menghela nafas. Lalu berkata, “Soal pembuatan ruang hijau itu akan tetap dilanjutkan. Meski pun penduduk sekitar yang akan digusur menolaknya,” jawab Ayahnya singkat.

“Tapi, Yah, jika nanti taman itu dibuat bagaimana dengan nasib warga setempat yang rumahnya digusur?”

“Begini Sra, soal nasib mereka, Ayah akan memberikan uang yang pantas untuk mengganti kerugian mereka sehingga mereka bisa membeli atau menyewa rumah baru.”

“Tapi, jika mereka tidak mau bagaimana?”

Ayahnya diam.  Sendok yang berisi ikan dan nasi yang sedianya akan dimasukkan ke dalam lambungnya kembali diletakkan di atas piring Duralex tersebut. “Isra kenapa kamu nak, mempertanyakan hal ini?” Ayahnya balik bertanya.

“Nggak, begini… teman-teman Isra banyak yang gak suka dengan pembangunan ruang tersebut karena bakal menggusur tempat asal mereka. Yah, apakah tidak ada cara lain Yah, selain memaksakan membangun ruang hijau itu di tempat itu?” Isra meminta kepastian dari Ayahnya agar Ayahnya mencari alternatif lain.

“Isra, pembangunan ruang hijau itu adalah untuk kemaslahatan masyarakat di kota kita ini juga,” Ayahnya mencoba meyakinkan anak kesayangannya itu.

“Kemaslahatan Yah? Isra pikir hanyalah cara Ayah untuk membuat kota kita ini bagus di mata Jakarta. Hanya itu. Isra selesai makannya,” dia langsung beranjak dari kursi yang ia duduki dan langsung menuju pintu ruang keluarga untuk langsung menuju pintu ruang tamu.

“Isra! Hei kemana kamu dek?” tanya kakaknya.

“Isra mau pulang, tidur.”

“Disini kan bisa nak,” Ibunya menimpali.

“Disini membosankan Mak.” Ibu, Ayahnya, juga kakaknya hanya bisa mengurut dada melihat tingkah anak bungsunya itu. Ayahnya tak menyangka ucapan seperti itu yang bakal keluar dari mulut anaknya tersebut.

Di dalam mobil sedan itu, Isra menjadi kesal sekali. Jika Ayahnya masih tetap bersikukuh untuk membangun ruang hijau dan menggusur pemukiman penduduk tempat orang yang disayanginya tinggal. Maka, upayanya untuk menarik hati Mugi ke dalam pelukannya akan hancur berantakan. “Ayah bodoh,” gumamnya.

“Hei, Gi, lagi ngapain lo?” tanya Dodi padaku yang sedang asik dengan novel Novus yang kemarin pagi kupinjam.

“Lagi boker? Kenapa? Ahahaha…. Ya, lagi baca novel lah…. Kenapa Dod,” aku balik bertanya.

“Nggak…. Gini Gi…,” Dodi lalu diam.

“Iya,” aku menyimaknya dengan seksama.

“Gini Gi…. Aku males juga buat ngomong hal ini sama lo nih…”

“Ngomong aja men, slow aja…” kataku memotivasinya.

“Gini…. Nanti malam anak-anak mo bikin acara sedikit. Lo tau kan hari ini Yoga mo pulang kesini.”

Aku mengangguk. “Lalu?” tanyaku.

“Ya, kata Yoga tadi malam dia minta sama gue buat ke….” Dodi mengecilkan suaranya dan membisikkan sesuatu ke telingaku. Ia melanjutkan, “Gimana, lo mau nemenin gue bentar?”

“Ke…. itu? Ngapain kita kesana?” aku kaget.

“Hus! Jangan ribut, di dengar orang gak enak. Ya, lo tau lah saat dia di AS, dia sering jumpa cewek-cewek cakep disana dan juga sering ngadain party disana. Jadi, kalo kita mo ngadain party buat kedatangannya kesini, maka, setidaknya kita nyediain beberapa ledis-ledis buat dia disini. Tentunya buat di acara itu. Buat meramaikan suasana lah dan buat temen, temen-temen kita yang jomblo juga,” Dodi menjelaskan.

“Ah, si Yoga itu ada-ada ajah…” aku tertawa kecil. “Oke deh, tapi aku tunggu diluar aja yah….” Aku mengajukan syarat.

“Sip tuh…” Dodi pun beranjak pergi. “Oh ya, Gi, jangan lupa ajak pacar lo kesana ya, soalnya Yoga nyuruh kita buat bawa pacar kita juga kesana. Plus, jangan lupa, acaranya mulai jam 9 teng oke?”

“Iya aku tahu…” aku pun melanjutkan membaca. Dodi pun berlalu pergi. Tapi pikiranku jadi nggak tenang, aku berpikir masalah buat membawa pacar ke tempat itu. Pacar darimana, pikirku, aku kan nggak punya teman kencan. Aku pun bangkit dari kursi taman fakultas yang terbuat dari semen itu. Saat berdiri, secara tak sengaja aku melihat Isra ada diantara teman-temannya. Tampaknya mereka sedang mengobrol. Ide itu pun terlintas.

“Hai Sra, lagi ngapain,” sapaku pada cewek yang disukai oleh anak-anak lelaki di kampusku karena cantik dan tajir.

“Hei Mugi, tumben lo kesini,” kata Sera dan Dina menimpali. “Biasanya kamu paling anti kesini. Pasti ada maunya ya,” selidik Dina sambil meledekku.

“Ah… yah seperti itulah,” kataku pada mereka. Isra masih diam. Ia terkejut, tak percaya hal ini akan terjadi.

“Aku boleh duduk disini kan?” aku melirik kursi beton yang diduduki oleh Isra yang lebih setengahnya, karena kursi itu lumayan panjang. “Woi, Sra boleh gak?” tanyaku lagi.

“Ah… ha..i… Bo…. Boleh,” Isra masih gugup.

“Boleh, abangku sayang, ahahaha…” ledek Dina dan Sera kepada Isra.

Aku pun duduk. “Evri mana? Kok nggak nampak dari tadi?” tanyaku pada mereka. Mencoba basa basi.

“Evri lagi sibuk, ngurusin acara buat BEMAF ntar,” kata Sera padaku.

“Oh..” Aku pun diam, menunggu responnya.

“Nga… ngapain kamu kesini, Mugi?” dia memulai sebuah basa-basi yang gak kusuka.

“Nggak…. Aku mau ngobrol sebentar sama kamu,” jawabku.

“Kyaaa….. Mugi ngajak ngobrol Isra,” teman-temannya itu mulai meledek kami.

Aku memberi aba-aba lewat tatapan mata kepada mereka berdua agar pergi untuk sebentar saja.

“Baiklah, kami berdua pergi dulu,” kedua temannya itu pun beranjak pergi.

“Hei kalian mo kemana?” dia pun beranjak pergi juga.

“Tunggu Sra,” akupun memegang lengannya. Dia melirikku. “Ma.. maaf,” aku pun melepaskan tanganku. “Sra, jangan pergi dulu…. Ada yang mau kubicarakan sama kamu…”

Ia pun kembali duduk. “Udah ngomong ajah…” jawabnya ketus. Ia kembali makan.

“Kayaknya nasi gurih ini enak ya?” aku berusaha mengajaknya ngobrol untuk mengembalikan moodnya yang telah berubah gara-gara sikapku yang kemarin pagi, gara-gara menumpahkan nasi goreng buatannya itu. Tapi, tiba-tiba sikapnya berubah. “Kamu mau?” ia menawariku.

“Tentu aja dong.”

“Nih,” ia mengambil sendok yang  tadi. Ia pun mulai menyuapiku. Rasanya sedikit asin, entah karena pengaruh air liurnya yang membaluti sendok makan tersebut atau memang rasa nasi gurih ini tapi kucoba telan juga. Meski sulit.

“Gimana? Oishi?” katanya sambil tersenyum. Senyum yang indah. Eits… ini bukan saatnya untuk itu.

Aku membalas senyumannya. Tapi meski sedikit asin, tapi, nasi ini emang enak. Coba saja tidak ada pengaruh asinnya. “Iya, Sra. Ini buatan sendiri ya?” jawabku sembari menyeka mulutku dengan jari tangan.

“Em.” Ia mengangguk.

“Sra, maaf ya, yang tempo hari itu. Setelah pulang, aku merasa jika sebenarnya aku memang…..”

“Eits….” Ia menutup bibirku dengan jari telunjuknya. “Sudah. Yang telah terjadi itu, biar saja berlalu. Sekarang kita buka halaman baru,” ujarnya.

“I… iya.” Akupun kembali menerima suapannya untuk kedua kalinya. Entah kenapa, nuansa yang terjadi saat ini berbeda. Apakah ini yang disebut dengan “chemistry”? Entahlah…. Yang jelas aku menikmati sekali suasana seperti itu. Suasana hati yang belum pernah kurasakan sebelumnya….

Seusai belajar, aku pun kembali menjumpainya.

“Sra….” Aku menghampiri mejanya.

“Ya, ada apa….” Jawabannya terdengar di telingaku sedikit mesra.

“Begini…. Nanti malam jam sembilan kamu ada acara nggak?” tanyaku. Ia masih asik dengan kegiatan memasukkan buku kuliah ke dalam tasnya.

“Jika kamu yang minta, aku pasti nggak ada acara apa-apa,” jawabnya tersenyum. Jantungku berdegub.

“Oh…. Baguslah kalau begitu. Nanti malam habis Isya kita ketemuan di depan kampus ya. Aku tunggu,” jawabku.

“Oke…. Emang ada acara apa sih?” tanyanya kembali.

“Temanku baru pulang dari Amrik. Jadi kami bikin acara sedikit,” ujarku.

“Oh….” Ia kembali melanjutkan, “Mugi, kamu pulang dengan siapa hari ini?”

“Biasa…. Jalan kaki.”

“Eh gi,” ia merangkul lenganku, “Kita ke Taman Sari mau gak, aku mau makan ayam penyet. Katanya sih ayam penyet disitu enak. Kamu temenin aku ya… plisss…..” mohonnya padaku. Melihat wajahnya yang seperti itu, ingin rasanya sekali kucubit pipinya. Tapi, ini bukan saatnya seperti itu, bathinku mencoba menghilangkan perasaan ini.

“Tapi tadi kamu kan sudah makan?”

“Aaahhh…. Anggap saja ini adalah hari kita jadian gimana? Jadi, mau ya…”

“I, iya,” aku tak kuasa menahan ajakannya. Aku pun menyanggupinya, mungkin ini adalah hari terakhir aku seperti ini. Ini semua kulakukan demi Bang Yoga, karena dia hanya sekali pulang kesini. Setahun hanya sekali, itupun jika ada.  Selain itu, dia udah sering menolongku. Apa jadinya jika aku pergi ke acara itu nggak sesuai dengan permintaannya…

Malam ini, sesuai janji, aku menunggunya di jalan depan kampus. Meski agak telat, ia tetap datang.

“Hai, Mugiiii….” Tampak ia sedang berlari. Ia membawa tas kecil.

“Yo…. Dengan siapa kamu kesini,” tanyaku mengawali pembicaraan.

“Dengan Putra, tapi dia sudah kusuruh pulang,” jawabnya. Putra adalah butler sekaligus supir pribadinya.

“Oh…. Nanti siapa yang jemput pas pulang dari acara tuh?”

“Tenang. Nanti pasti dia datang menjemput. Dia nggak benar-benar pulang kok.” Kamipun akhirnya pergi bersama, seperti biasa ia kembali merangkul lenganku.

Tempat acaranya lumayan luas. Seluruh teman-temannya datang. Namun, banyakan cowok. Seperti biasa, acaranya Bang Yoga selalu ramai dikunjungi orang. Para gadis-gadis malam yang diundang Yoga juga datang. Musik house bergema di dalam dan diluar rumah itu.

“Yo…. Mugi,” kulihat dari jauh Dodi mengangkat tangannya tanda agar aku datang kesana. Disamping Dodi ada pacarnya, Lisa, seorang mantan Junkies. Kami pun menghampirinya. “Hei, akhirnya kalian jadian juga ya,” kata Dodi dengan menekan sebuah intonasi di kalimat “kalian jadian juga ya.”

“Yah, begitulah….” Jawabku. Isra terlihat agak canggung, sepertinya ia kurang terbiasa pergi ke tempat acara seperti ini. “Oh ya, kenalin Sra, ini Dodi dan ini Lisa pacarnya,” kataku memperkenalkan. Isra pun mulai berjabat tangan dengan mereka berdua.

“Isra.”

“Dodi.”

“Lisa.”

“Isra, senang bisa berkenalan sama kalian berdua,” ujarnya.

“Ya, sama-sama. Oh ya, santai aja ya Sra, anggap ajah lo pergi ke acara yang dibuat sama pacar lo ni ya,” sahut Lisa menimpali.

“Aahh… kalian bisa ajah. Oh ya, Bang Yoga mana?” tanyaku yang melihat ia tak ada di acara ini.

“Oh, dia sedang di dalam. Di ruang kolam renang,” kata Dodi. “Biasa, di acara ini perwakilan jaringan si Yoga di Medan dan Jakarta juga datang. Mereka sedang asik ngomongin bisnis,” jawab Dodi yang kembali membakar rokoknya.

“Di acara seperti ini?” tanyaku sembari menuangkan segelas minuman dari botol minuman panjang kepada Isra. “Nih, minum Sra. Rasanya lumayan enak loh,” kataku. Aku pun memberikan gelas itu padanya. Ia tampak ragu untuk meminumnya. Aku langsung menengguk minuman tersebut.

“Di minum ja Sra, itu bukan racun atau alkohol kok. Itu cuma jus,” kata Dodi melihatnya masih ragu-ragu. Isra melirik ke diriku. “Iya Sra, diminum ajah,” yakinku padanya. Ia pun akhirnya meninumnya sedikit.

Aku lalu melihat ia terbatuk-batuk. Udara di ruangan ini memang sedikit pengap. Asap rokok berterbangan di seluruh ruangan.

“Oh ya Sra, kita ke tempat Bang Yoga ya sebentar yok,” ajakku. “Aku mau ngenalin kamu sama dia,” aku memegang tangannya. Kulihat matanya seperti enggan. “Yok lah….” Aku pun langsung menarik tangannya. “Eh, Dod, Sa, aku ke tempat Bang Yoga dulu ya.”

“Yup lanjut aja..” jawab mereka berdua.

Kami pun pergi ke belakang rumah itu. Di belakang rumahnya ada kolam renang yang lumayan luas. “Hei, bang, udah lama nih kita gak jumpa,” sapaku. “Teman-teman abang tadi kemana,” tanyaku melihat wakil jaringan bisnis Bang Yoga yang sudah tidak ada di tempat. Di sekeliling permukaan kolam itu tampak beberapa orang pasangan.

“Mereka udah pulang. Mereka datang kesini cuma karena ada urusan sedikit, bisnis di Medan sama di Jakarta, lagi ada sedikit gangguan. Kan ini mau dekat puasa,” ujarnya. Aku mengangguk paham.

“Oh ya bang kenalin ini Isra, ‘pacarku’,” kenalku pada Yoga. Yoga pun menyalami tangan si Isra. Tangan Yoga agak sedikit lama menggenggam tangan Isra. Tampak ada yang nggak beres pada aura wajah si Isra. Ia tampak takut.

“Oh bang,” akhirnya Yoga pun melepaskan tangannya, “Gini bang, aku mau minta izin nih. Ini kan sudah sedikit malam, aku mau mengantarnya pulang dulu,” yakinku pada Bang Yoga. Maksud sebenarnya sih aku ingin mengantar ia pulang, aku nggak tega  melihat nuansa yang ada padanya jadi berubah seperti ini. Dari tadi sesampai di tempat ini, ia nggak bicara sedikit pun, kecuali jika kupancing. Mungkin dia belum terbiasa. Aku jadi merasa bersalah.

“Oh, ya udahlah…. Tapi besok lo datang lagi kan?” tanya Yoga padaku.

“Tentu aja bang. Udah dulu ya, aku pulang dulu.” Aku pun pamit dan langsung meninggalkan tempat ini.

“Hei Gi kemana lo?” tanya Dodi melihatku langsung cabut dari acara ini.

“Aku mau ngantar dia pulang dulu,” jawabku tanpa melihat ke belakang.

Di sepanjang perjalanan pulang aku diam. Aku jadi nggak enak padanya dan pada Bang Yoga.

“Mugi, udah ya, sampai segini ajah…. Tadi aku udah menelepon Putra untuk menjemputku disini,” katanya padaku dengan intonasi suaranya yang sedikit berubah.

“I, iya, ya udah deh. Tapi besok kita bisa ketemuan lagi kan?” tanyaku memastikan jika dia nggak marah padaku.

“Tentu aja dong,” ia tersenyum.  Aku pun beranjak pergi dengan perasaan sedikit nggak enak. Tiba-tiba belum seberapa jauh aku pergi, sebuah mobil sedan datang dan beberapa orang keluar dari mobil itu langsung menyekap mulut Isra dengan saputangan. “Mugiii…. Tolo…” Aku mendengar suara teriakannya. Aku pun putar arah. “Israaa….” Aku berlari, namun, sayang aku terlalu jauh. Aku tahu ini ulah siapa, mereka adalah anak buahnya Bang Yoga. “Brengsek…” geramku. “Aaaaarrggghhhhh!!” Aku pun langsung menelepon Dodi, sahabatku dan beberapa teman lainnya yang pernah berjanji bisa membantuku jika dalam keadaan seperti ini. Beberapa temanku di kampung sudah pernah memperingatkan jika hati-hati bergaul dengan Bang Yoga, namun, dulu kuanggap itu lebih kepada karena mereka iri denganku. Pikiran yang terlalu kekanak-kanakan.

Atas bantuan Dodi, aku pun sampai di lokasi tempat Isra disekap. Namun, Dodi tidak bertindak jauh lagi, ia kabur. Katanya ia malas berurusan dengan Yoga. Namun, belum sempat menemui Isra aku sudah di hadang oleh para anak buah si Yoga. Aku pun berusaha membela diri, rasa takut yang ada di hati sontak menghilang. Satu persatu mereka ku hajar hingga k.o.

Aku pun kembali melanjutkan penyelamatanku. Namun, tampaknya masih ada beberapa lagi anak buah Yoga yang ada di dalam. Aku terdesak. Namun, untung saja bantuan dari teman-teman di kampung datang menolong.

“Mugi, ini biar kami yang urus, kamu pergilah jemput tuan putrimu…” kata Ifan, pimpinan salah satu dari teman-temanku itu.

“Thanks, friend,” sahutku.  Aku pun sampai di gudang milik Yoga. Menurut kata Dodi, disini biasanya Yoga menyimpan narkoba dan gadis-gadis remaja yang akan dibawa ke Hongkong dan Thailand juga di kota-kota besar di Indonesia untuk dijadikan wanita pekerja seks komersial.

“Yoga, keluar kau! Sialan! Kembalikan Isra kepadaku! Bajingan!”

“Hahahaha…. Tenang, ia ada disini.” Yoga muncul. Kulihat Isra diikat dan dijaga oleh beberapa anak buahnya. “Hei, dek, jangan lah kau begitu. Biasa saja sama gue. Lo mau tuan putri lo ini balik?” tanya Yoga padaku. Intonasi nadanya menantang. Ia gak menyangka beberapa temannya dan anak buahnya bisa kalah melawan kami. Yoga pun memerintahkan pengawalnya untuk menyerangku. “Hiyaaaa….!” Para pengawal Yoga bergerak menyerang. Aku pun maju, satu persatu mereka berhasil kutumbangkan. Aku kecapekan. Keringat bercucuran deras.

“Sudah menyerah saja bang…. Para pengawal dan anak buahmu sudah pada lemas,” aku mencoba memperingatkan Yoga. Kulihat nyali Yoga sudah mulai ciut. Para teman-temanku yang tadi menolongku, kini sudah tiba di dalam gudang beras itu.

Yoga kemudian menarik Isra untuk dijadikan tawanan. “Mendekat kesini…. Dia kubunuh…. Hahahaha…” ia tertawa. Ia berpikir ini bakal selesai. Ia pun melepas Isra, ia kabur. Namun, dari arah belakang ketika ia hendak kabur, sebutir peluru bersarang di kakinya. Darah segar mengalir cukup banyak. Polisi yang dipimpin Putra, butlernya datang menolong tepat waktu. Polisi terpaksa menembakkan dua timah panas ke kaki Yoga dan ke tubuhnya karena ia berusaha kabur. Ia pun tewas di tempat.

Kami pun berhasil menyelamatkan Isra, pacarku. Aku pun langsung menghampirinya. Ku lepas ikatan tali yang melilit tangannya dan pplasiban hitam yang menutup mulutnya. Dan langsung saja aku memeluknya. Ia menangis tersedu-sedu. Ia mengalami sedikit trauma.

“Kamu gak apa-apa, Isra.” Aku memeluknya erat-erat. “Tenang, kamu sudah aman sekarang. Maafkan aku Sra,” aku menangis. Aku tak kuasa melihat ia seperti ini. “Aku gak akan lagi menjauh darimu. Aku selalu ada disampingmu. Aku janji.”

“Maaf bang, aku nggak menjaganya secara penuh,” ujarku pada Putra. Aku merasa sangat bersalah. Entah apa jadinya jika aku gagal menyelamatkannya.

“Tenang aja bang, yang penting kan nona selamat. Lagi pun tadi saya juga salah, saya telat menjemput nona. Tapi pas saya lihat abang berlari, saya pun langsung mengikuti abang dari belakang dan langsung memanggil polisi untuk jaga-jaga,” katanya.

Beberapa menit kemudian datang orangtua dan kakak Isra ke rumah sakit. Selesai peristiwa itu Isra pingsan. Makanya, ia dibawa ke rumah sakit. Kami masih berada di luar. Dokter dan seorang perawat keluar dari kamar tempatnya dirawat.

“Bagaimana dok, keadaan nona.”

“Ia baik-baik saja,” jawab dokter itu. “Bapak Ibu ini keluarganya?” lanjut dokter itu.

“I, iya dok. Bagaimana dengan keadaan putri kami, dok?” tanya Ayah dan Ibunya.

“Anak Ibu, Bapak baik-baik saja. Ia hanya sedikit trauma. Sekarang ia sedang tidur.”

“Boleh kami masuk dok?” tanya kami semua kepada dokter itu.

“Oh, boleh, silahkan saja.” Kami pun bergegas masuk ke dalam. Melihatnya sedang tertidur karena peristiwa tadi malam, aku kembali menangis. Mataku berair dan memerah. Aku hanya bisa diam saja. Orangtua dan saudarinya tidak kusapa.

“Kamu yang menolong anak saya?” tanya Ayahnya padaku yang masih membisu.

“I, iya pak.” Aku jadi gugup. Malapetaka memang sedang menimpaku, bathinku. Mungkin imbas karena aku sering menyakiti hati Isra. Ini adalah hukum karma, bathinku. Ayahnya kemudian memanggil Putra ke luar kamar. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh mereka bertiga.

“Bu, maaf… kan saya Bu,” sepatah kata keluar dari mulutku pada Ibunya Isra. Kakaknya hanya diam saja. Ibunya tersenyum.

Esok paginya, aku datang ke rumahnya untuk menjenguknya. Beberapa teman di jurusan juga ikut. Kami pun sampai di rumahnya. Ibunya langsung mempersilahkan kami untuk naik ke lantai atas, dimana kamar Isra berada.

“Assalammualaikum,” kami menyapa di luar pintu kamarnya yang tertutup.

“Waalaikumsalam… masuk aja,” terdengar suara kakaknya Isra di dalam. Kakaknya langsung membukakan pintu kamar. “Oh, teman-temannya Isra ya, masuk.” Saat kami masuk, kakaknya pun langsung ke luar kamar.

“Gimana nih Sra kabarnya? Kami prihatin loh mendengar kabar ini…” kata Dina dan teman-temannya yang lain. Isra tampak sedang berbaring di kasurnya. Tampaknya ia masih kurang sehat.

“Mugi mana?” tanyanya pada Dina dan teman-temannya.

“Ia ada diluar pintu,” jawab Sera. “Gi masuk Gi.”

Aku pun masuk dan langsung menghampirinya. “Maafkan aku Sra…. Aku telah….” Ia kembali menutup mulutku dengan jari telunjuknya, meski masih dalam keadaan lemas. “Yang telah berlalu, biar saja berlalu,” katanya dengan konsisi yang lemas. “I, iya.” Aku mencium tangannya.

“Oh ya, kami tunggu diluar ya,” kata Sera dan teman-temannya yang lain.

“Gi, nanti malam kamu kesini ya….. Ayah ada yang mo diomongin sama kamu…… ini penting….” Ujarnya. Aku kembali kaget. Ada apa ini. aku pun mengangguk setuju.

Rupanya, di malam itu, Ayahnya menjodohkanku dengannya setelah mendengar seluruh peristiwa kemarin malam dengan Putra dan aku sendiri. Ia mempertunangankan aku dengan anaknya. Aku sendiri sedikit kaget, aku tak menyangka bakal seperti ini urusannya. Bahkan ia mau menikahkan kami berdua saat libur panjang ini. Aku tak bisa menolak, sedangkan Isra hanya bisa tersenyum bahagia mendengar kabar bahagia ini. Sedangkan untuk urusan pembangunan ruang hijau itu diurungkan oleh Ayahnya. Dan perumahan kami pun tak jadi digusur. Ini memang berkah, bathinku. Rupanya Allah telah mensetting peristiwa ini dengan amat baik. Hanyalah Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana….. Tak lupa aku pun mengucap syukur atas peristiwa ini. Peristiwa bahagia yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku….

Selesai……

Iklan
Published in: on 5 Agustus 2010 at 13:38  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://mugiwaranonakama.wordpress.com/2010/08/05/%e2%80%9canata-dake-zutto-mitsumeteiru-no%e2%80%9d/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: