JANGAN SALAH KAPRAH SOAL JILBAB!

  • Ditulis oleh Mugiwara No Nakama
  • Terima kasih banyak untuk bang Iwan Doumy untuk buku miliknya
  • Foto: Bisnisgontorclub.com, Islambisa.wordpress.com, Facebook

Tulisan ini adalah sebuah bentuktanggung jawab saya terhadap sesama untuk menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar dan sekaligus didasari oleh keprihatinan saya pribadi terhadap prilaku para wanita muslim kita, dimana saja ia berada. Mereka menjadi jahil terhadap agamanya sendiri. Seakan-akan menutup aurat itu bukanlah tuntunan agamanya, namun, hanya sekedar budaya saja. “Ya, karena lingkungan gw bersyariat Islam dan takut ditangkap polisi syariat, maka terpaksa deh gw makai jilbab,” mungkin seperti itulah opininya mereka.

Fenomena yang terjadi di dalam masyarakat kita saat ini adalah, terjadinya sebuah hal yang salah kaprah di dalam memaknai dan mengetahui arti kain yang menutupi seluruh tubuh para wanita ini, yang kita sebut sebagai “jilbab.” Banyak wanita di zaman modern ini memaknai jilbab sebagai kerudung atau penutup kepala. Sehingga cuma kepala dan rambutnya saja yang ditutup, tetapi tubuh bagian bawahnya terbuka (tertutup tetapi telanjang, begitu kata hadis Nabi Muhammad saw.). Itupun, rambutnya juga masih tampak setengahnya, apakah di poninya maupun di ujung rambutnya (Ini adalah fenomena yang penulis sendiri lihat di lapangan). Dan jika pun menutup, maka kain kerudung itu dililit di leher, seperti mau bunuh diri. Dan, tetap saja, yang tak boleh dilihat oleh yang bukan haknya (bukan muhrimnya), juga akhirnya terlihat juga. Sungguh miris.

Lantas apa yang dimaksud dengan jilbab itu sendiri? Hal ini akan saya bahas selanjutnya. Jadi, tolong terus dibaca ya…  ^ ^

Anjuran Menutup Aurat

Rasulullah Muhammad saw di dalam hadisnya, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud berkata: “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang perempuan itu, jika telah baligh tidak pantas untuk ditampakkan dari tubuhnya, kecuali ini dan ini.” Beliau menunjukkan telapak tangan dan wajahnya.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini sendiri berdasarkan penuturan Aisyah ra yang meriwayatkan bahwa Asma’, putri Abu Bakar ra datang kepada Rasulullah saw dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah saw memalingkan wajahnya dari Asma’ sambil mengatakan hal diatas. Selain itu, yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw, “ini dan ini” adalah kedua telapak tangannya Asma’ dan kedua telapak tangan termasuk ke dalam aurat khafifah, yang meliputi semua anggota tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan.

Di dalam buku “Mengenal Sistem Islam dari A sampai Z,” disebutkan masalah aurat wanita yang harus ditutup bila berhadapan dengan seorang laki-laki adalah:

Semua bagian tubuh yang termasuk aurat khafifah harus ditutup setiap kali seorang perempuan berada di tempat umum; atau pada saat-saat tertentu dimana seorang laki-laki asing bisa melihatnya. Seperti dijalan atau di pasar. Pakaian yang ia kenakan juga tidak boleh ketat sehingga dapat menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya. Yang demikian itu belum dianggap menutup aurat dengan sempurna.

Bila ada seorang laki-laki yang melihat bagian tubuhnya, meski hanya sehelai rambut dikepalanya—maka laki-laki itu dianggap telah melihat auratnya, dan oleh sebab itu ia pun berdosa. (Meski demikian ada alasan syar’i yang membolehkan seorang melihat aurat perempuan, misalnya pada saat melakukan pengobatan medis).”

Kemudian buku tersebut juga melanjutkan, “Bila perempuan itu berada di tempat khusus, seperti di dalam rumahnya, sedangkan disana ada laki-laki yang termasuk mahramnya, atau wanita lain, maka ia harus menutup aurat ghalidaaurat yang meliputi semua anggota badan antara dada (termasuk—maaf—payudara) hingga ke lutut—, akan tetapi boleh membuka aurat khafifah.”

Seorang perempuan hanya boleh menampakkan semua bagian tubuhnya, termasuk aurat ghalida, kepada suaminya semata. (Penekanan ditambahkan oleh penulis).”

Selain itu, ternyata menutup aurat sekaligus berjilbab saja gak cukup, karena kebanyakan dari wanita yang menutup auratnya itu masih juga mengumbar yang lainnya, yaitu berhias saat berada di luar rumahnya. Yang, parahnya, ini terjadi juga dikalangan wanita yang sudah memiliki suami. Seharusnya di dalam rumahlah ia berhias agar dilihat oleh suaminya, namun, yang terjadi malah sebaliknya, ia berhias ketika berpergian ke luar rumah (misalnya ke pasar), sedangkan di dalam rumah, ia berhias ala kadarnya. Malah tidak sama sekali.

Padahal saat berpergian ke luar rumah, seorang wanita harus memakai pakaian luar, khimar dan jilbab.

Lantas Mugi, apa itu khimar?

Khimar sendiri adalah penutup kepala atau kerudung, yang menutupi seluruh rambutnya serta diulurkan hingga menutup leher dan dada. Nah, menarik bukan? Kain yang dipakai untuk menutup kepala itu, yang kadung kita anggap sebagai “jilbab” ternyata bukanlah jilbab. Tapi ternyata namanya adalah “khimar.”

Lalu, jika kerudung itu bukanlah jilbab? Lalu jilbab yang sesungguhnya itu apa, Mugi?

Baiklah teman-temanku sekalian. Jilbab itu sebenarnya adalah baju kurung (baju yang longgar) yang menutup seluruh bagian tubuh dan tidak tipis, sehingga, dapat menyembunyikan pakaian keseharian yang ada di dalamnya. Ini sesuai dengan perintah Allah SWT kepada istri-istri Nabi, dan kita semuanya di dalam surah Al-Ahzab ayat 59:

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Al-Ahzab [33]: 59).

Aturan Islam dalam Kehidupan Sehari-hari Selain Menutup Aurat (Memakai Khimar dan Jilbab)

Nah, seperti yang telah saya jelaskan diatas, di dalam Islam, para wanita dilarang juga  mengenakan berbagai bentuk aksesoris pakaian yang dapat menarik perhatian. Ini termasuk perhiasan, tata rias, atau segala sesuatu yang bisa menimbulkan bunyi ketika dia berjalan. Perempuan juga tidak boleh memakai wewangian atau parfum yang dapat tercium ketika berada di tempat-tempat umum. Namun, bila ia mengenakan tata rias dan pakaian yang tidak menarik perhatian, yang berlebihan, maka hal itu boleh dilakukan sekalipun ia berada di tempat umum.

Begitupun di tempat-tempat khusus, dimana disitu terdapat perempuan-perempuan lain dan mahramnya, tetapi tidak terdapat laki-laki asing disana, ia juga harus menutup auratnya. Ini menurut saya pribadi, karena bukankah lebih baik, jika ia tetap menutup auratnya. Karena di dalam kondisi dan perilaku masyarakat yang tidak menentu seperti saat ini ada baiknya untuk tetap menjaga diri dengan tetap menutup aurat dengan khimar dan jilbab. Silahkan baca surah ke-24, An-Nur ayat 31.

Wah, jika sudah seperti ini, kami tetap terkekang dong Mugi?

Islam juga tidak seperti itu, Islam juga membolehkan aurat wanita terlihat dalam kondisi-kondisi tertentu (khusus). Tentu saja ini masih menurut hukum syara’. Perkara-perkara yang diizinkan itu antara lain:

  1. Perkara pengobatan. Diperbolehkan laki-laki dan wanita bercampur dalam rangka mencari pengobatan.
  2. Perkara pendidikan. Diperbolehkan laki-laki dan perempuan hadir bersama dalam sebuah kelas, bila tujuan kehadiran mereka adalah untuk mencari pengetahuan ke-Islaman atau pengetahuan lain yang diperbolehkan oleh syariat.
  3. Pernikahan. Diperbolehkan bagi laki-laki dan perempuan untuk hadir di tempat yang sama dalam rangka melangsungkan, menyaksikan, dan merayakan sebuah pernikahan.
  4. Masalah makanan. Laki-laki dan wanita diperbolehkan berada di tempat yang sama untuk makan.
  5. Penangkapan yang dilakukan oleh Negara. Dalam berbagai urusan yang menjadi perkara Negara, maka polisi atas nama kekuasaan Khalifah diperbolehkan memasuki tempat-tempat khusus yang mungkin didiami oleh para wanita, apabila hal ini memang diperlukan.
  6. Keadaan darurat. Seperti bencana alam atau perang, maka percampuran kaum laki-laki dan wanita diperbolehkan berada di suatu tempat dalam rangka menghilangkan bahaya merupakan suatu hal yang diperkenankan.

Gimana sudah jelas? Kalo masih belum puas. Monggo, saya jelaskan lagi… ^ ^

Selain perkara-perkara di atas, hal-hal lain yang diperbolehkan bercampur baur antara laki-laki dan wanita adalah di tempat-tempat seperti jalanan umum, masjid, pasar, rumah sakit, kantor, bandara, ketika melakukan transaksi bisnis, atau ketika melaksanakan ibadah haji. Kenapa hukum syara’ memperbolehkan hal ini, karena tempat-tempat ini adalah tempat yang gak bisa kita hindari. Juga di tempat dakwah dan tempat memperoleh pengetahuan, seperti di sekolah-sekolah, kampus-kampus (perguruan tinggi dan universitas), maupun tempat-tempat lain yang tidak membutuhkan izin untuk masuk kesana.

Namun, di tempat-tempat ini juga hukum syara’ melarang jika terjadi ikhtilat atau campur baur antara kaum laki-laki dan wanita secara bebas. Harus ada dilakukan pemisahan antara laki-laki dan perempuan, misalnya menempatkan kaum wanita di bagian belakang dan kaum laki-laki di depan. Prinsip utamanya adalah, agar hal ini terjadi benar-benar dalam rangka urusan atau kepentingan yang di atas tersebut, sehingga kontak-kontak dengan lawan jenis ini dapat ditekan seminimal mungkin. Jadi, di dalam Negara Islam, misalnya, akan dibuatkan ruang-ruang khusus bagi kaum laki-laki dan kaum wanita di kereta api dan bus-bus yang dioperasikan.

Secara umum, setiap aktivitas yang melibatkan laki-laki dan perempuan haruslah merupakan aktivitas yang halal. Oleh karena itu, interaksi antara wanita dan laki-laki bukan mahram untuk sekedar bersenang-senang dan hiburan sama sekali tidak diperbolehkan. Maka, berbagai bentuk interaksi seperti khalwat, pacaran, berkencan, atau menikmati waktu luang bersama wanita-wanita bukan mahram merupakan aktivitas yang haram. Namun, lain halnya jika sudah terikat tali pernikahan. Kalo, jika sudah nikah, Islam jelas membolehkan interaksi ini dilakukan oleh laki-laki dan wanita. Kan, ente udah nikah sama si doi. Hehehe…. ^ ^

Semoga note yang gak seberapa ini bisa memberikan informasi yang berharga buat teman-teman akhwat saya. Dan juga buat teman-teman ikhwan saya, agar bisa tetap menjaga diri seperti perintah Allah SWT di dalam surah An-Nur ayat 31. Dan, bagi yang sudah membaca note ini jangan lupa dibagi atau disampaikan atau juga di share buat teman-temannya yang lain. Agar mereka mengetahui arti khimar dan jilbab yang sebenarnya dan juga bagaimana Islam mengatur sistem pergaulan antara kaum laki-laki dan wanitanya. Masalah aturan pergaulan di dalam Islam ini sendiri sebenarnya cukuplah luas. Namun, karena keterbatasan ruang, maka saya cukupkan sampai disini saja. Kapan-kapan jika ada waktu, insya Allah, akan saya tulis lagi yang lebih mendetail.

Wassallam…. ^ ^

Mugi

Sumber Utama:

Jalal al-Anshari (ed). Mengenal Sistem Islam dari A sampai Z (terj). Pustaka Thariqul Izzah: 2004.

Iklan
Published in: on 2 Oktober 2010 at 08:06  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://mugiwaranonakama.wordpress.com/2010/10/02/jangan-salah-kaprah-soal-jilbab/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: