MENGUAK SISI LAIN INDUSTRI JAPANESE ADULT VIDEO

  • Dirangkum oleh Mugiwara No Nakama
  • Sumber kliping: http://www.kapanlagi.com/a/old/av-idol-bisnis-pornografi-di-tengah-budaya-jepang.html dan http://ikikatta.blogspot.com/2010/05/alasan-mengapa-cewek-muda-jepang-banyak.html

Jepang selama ini identik dengan negara maju yang masih memegang budaya mereka dengan kuat. Namun di balik budaya dan tradisi yang kuat itu, industri pornografi ternyata juga tumbuh dengan subur pula. Buat yang sering ‘terkoneksi internet’ barang kali nama AV Idol bukanlah nama yang asing lagi.

AV Idol (Adult Video Idol) adalah sebutan buat para aktris atau model yang bekerja di bidang pornografi di Jepang. Sebutan ini mulai muncul di awal tahun 80-an dan kian hari kian berkembang dengan pesat. Bahkan saat ini ada lebih dari 25 studio yang mengkhususkan dalam produksi video porno. Itu belum termasuk industri media cetak yang juga tak kalah pesatnya. Ini menunjukkan bahwa industri ini bukanlah industri main-main atau industri underground. Mereka punya bisnis yang dikelola dengan baik secara profesional layaknya industri lain.

Pornografi Jepang juga punya karakteristik unik bila dibandingkan dengan pornografi barat pada umumnya. Misalnya saja, di Jepang, topik yang sering kali jadi ide dasar adalah hubungan seks dengan gadis-gadis yang masih menggunakan seragam sekolah. Dunia barat menganggap pornografi Jepang berpusat pada kekerasan dan hubungan seksual dengan anak di bawah umur, sesuatu yang di barat dianggap ‘asing’.

Pornografi Jepang juga punya banyak wujud selain dalam bentuk video dan gambar. Industri komik porno atau computer games yang sarat dengan muatan pornografi juga cukup laris di negeri matahari terbit ini namun tentu saja industri ini tak sebesar industri video porno yang telah melahirkan banyak bintang, seperti Maria Ozawa misalnya. Cewek yang baru berusia 23 tahun ini sudah menekuni bisnis ini selama hampir empat tahun.

Sejak tahun 80-an ada banyak nama yang identik dengan label AV Idols ini. Misalnya saja Kate Asabuki, Hitomi Kobayashi atau Nao Saejima yang populer di tahun 80-an sementara nama-nama seperti Akira Fubuki, Ai Iijima, atau Aika Miura baru muncul di era 90-an. Di tahun 2000-an ini nama yang paling populer bisa jadi memang adalah Maria Ozawa atau yang juga dikenal dengan nama Miyabi ini.

Ratusan AV Idol yang pernah ada hingga saat ini rata-rata memiliki masa aktif sekitar satu tahun saja. Selama satu tahun itu rata-rata mereka menghasilkan sekitar lima sampai sepuluh video. Beberapa Idol memang sempat melegenda dan memiliki karir lebih dari satu tahun. Kaoru Kuroki bahkan sempat dianggap sebagai aktris porno yang berhasil mengangkat status AV Idol menjadi orang yang terhormat juga di mata masyarakat. Ia memilih menjadi AV Idol meski sebenarnya ia juga punya karir yang bagus di televisi.

Yang jelas, bisnis ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Konon, bisnis ini bernilai sekitar Rp 46 triliun per tahunnya. Tahun 1992 saja bisnis ini bisa menghasilkan 11 film dalam satu harinya dan menguasai sekitar 30% rental video di sana. Dua tahun berikutnya, data mencatat bahwa dalam satu tahun Jepang bisa memproduksi 14 ribu video porno sementara di Amerika Serikat dalam waktu yang sama hanya mampu memproduksi sekitar 2.500 video saja.

Kenapa Para Wanita Mau Menjadi Artis JAV?

Sangat disayangkan memang. Padahal mereka punya potensi setidaknya untuk menjadi artis. Lantas apa yang jadi penyebabnya? Well tidak ada jawaban pasti yang saya tahu, namun saya cuma merangkum dari statemen-statemen rekan-rekan yang pernah atau sedang tinggal di Jepang dan faham dengan kondisi kehidupan disana. Berikut ini merupakan rangkuman statemen dan opini yang berkembang yang dapat memberikan sedikit gambaran alasan yang melatar belakangi aksi mereka.

Kehidupan kota yang keras mengharuskan para warganya untuk berusaha lebih untuk bisa bertahan hidup. Segala macam cara ditempuh agar dapur tetap mengepul. Dari cara yang terhormat sampai yang underground. Mengapa saya tidak menggunakan kata tidak terhormat, karena terhormat atau tidaknya bisa diperdebatkan selain itu pula tidak sedikit av idol di Jepang yang mempunyai kedudukan di mata masyarakat. Seperti apa yang saya tuliskan di artikel saya yang sebelumnya (EKSOTISME DUNIA KERJA DI JEPANG) dimana disebutkan bahwa seiring dengan perkembangan jaman, dunia kerja di jepang semakin “gila”. Keadaan ini menuntut mereka untuk berpikir kreatif. Muncul salary-salary man yang bergaji rendah namun mati-matian bekerja. Pernah saya menanyakan ke sensei saya yang ada dijepang untuk sekali makan disana habis berapa duit? beliau menjawab sekitar 1000 yen untuk sekali makan, sehingga dalam sehari untuk makan saja menghabiskan 3000 yen yach kalau mau berhemat mungkin 2000 yen. 1 yen kalau dirupiahkan sama dengan Rp. 102, kalau habis 3000 yen bearti Rp.306.000 hanya untuk makan saja. Wow angka yang fantastis. Jika hanya untuk makan saja begitu mahal lantas bagaimana kebutuhan yang lain?

Sekarang kembali lagi ke pertanyaan semula. Jika melihat paras ayu gadis av itu mengapa mereka tidak menjadi artis, model atau bintang iklan saja? untuk pertanyaan ini Alasan yang masuk akal mungkin adalah karena mereka kalah bersaing dengan yang lain. Pada awalnya berharap menjadi artis namun kalah bersaing sehingga terjun di cabaret klub, gravure idol, av idol, sampai buka layanan pink salon dan soapland. Apa itu pink salon dan soap land? ya semacam tempat “goyang-goyang” dengan tarif relatif “murah” untuk short time services saja. Dari short time saja para cewek itu sudah mengantong antara 4000 yen – 6000 yen kalau sehari ada 10 pelanggan bisa dikalikan saja. Hmmm cara singkat dapat duit ya..

Alasan selanjutnya adalah hukum kausalitas, ada permintaan ada penawaran. Ya, kehidupan bebas disana lumayan tinggi. Tapi jangan berpkir bahwa mereka murahan gampang dieksekusi. Bukan begitu maksudnya, berhubungan seks pra nikah bukan sesuatu yang mengganggu. Sedikit banyak hal ini juga mendorong pertumbuhan Av idol. Apa lagi pria jepang terkenal dengan shawat yang tinggi.

Alasan yang terkahir adalah hubungan seks pasca nikah yang minim. Lho kok begitu? kenapa setelah nikah justru malah jarang? sebelum nikah malah “keranjingan”. Tidak heran saya mendengar statemen seperti itu. Bagi kita Indonesia, seks pra nikah merupakan hal yang tabu sehingga banyak yang mengartikan nikah adalah legalitas berhubangan badan semata. Cobalah tengok sekililing anda ketika sedang bercanda anda mungkin pernah mendengar celetukan ” Dah merid sono, dah gak nahan kayaknya”. Pernyataan yang demikian mengindikasikan bahwa nikah merupakan legalitas sex..Berbeda dengan di negeri sakura, karena mereka menganggap seks pra nikah bukan hal yang tabu jadi merid bukan legalitas seksual saja. Lantas apa yang menyebabkan minimnya berhubungan badan? Hal ini disebabkan pekerjaan yang sangat menumpuk di kantor, pulang larut malam ketika sudah samapi dirumah kecapaian dan tidak mood lagi. Bahkan Seorang pasutri hanya sempat sekali dalam sebulan berhubungan badan? Lah..kalo lagi ngebet gimana? Ya swalayan atau manual bagi suami yang baik dan setia, tapi tidak setia ya jajan..ujung-ujungnya av idol lagi.

Sebetulnya keadaanya yang saya sebut mulai dari atas tidaklah jauh berbeda dengan kota-kota besar tanah air. Tidak usah jauh-jauh ke jepang untuk memahami hal ini. Bedanya kita tidak ada legalitas hukum untuk membuka industri esek-esek seperti di jepang. Walaupun ada video berbau mesum kualitas rekaman kita tidak secanggih mereka dan cenderung gelap karena kualitas kita masih “3gp”.. Sekian semoga bermanfaat.

Iklan
Published in: on 27 Desember 2010 at 16:29  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://mugiwaranonakama.wordpress.com/2010/12/27/menguak-sisi-lain-industri-japanese-adult-video/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: