Tuhan Tidak Terlibat Penciptaan Alam Semesta!

Oleh Zaynur Ridwan

Saya mendapatkan buku The Grand Design karya salah satu fisikawan paling populer di dunia Stephen Hawking setelah berdebat dng seorang pelanggan Gramedia karena sisa stok buku saat itu hanya satu buah, dan kami berdua ingin membelinya. Saya senang sekali mendapatkannya hanya karena sehari sebelumnya saya sdh menelpon GM dan menanyakan buku itu, meskipun pelanggan tadi sdh memegangnya lebih dulu.

 

Oke, saya to the poin aja, saya tertarik dng buku ini karena saya penasaran ketika membaca Kompas yang menjelaskan bgm Hawking memperjelas substansi pemikirannya tentang keteraturan hukum alam terjadi hanya karena teori kemungkinan, tanpa campur tangan Tuhan. Sekaligus catatan ini menjawab pertanyaan teman saya mas Pram di wall (baca: dinding Fesbuk) saya.

 

Dengan menjelaskan berbagai macam teori dan ragam percobaan fisika yang rumit saya mencoba -setidaknya- memahami dng pemikiran seorang awam dan mencari ‘missing link’ dalam konsep pemikiran Hawking meskipun tdk benar-benar saya temukan. Mungkin karena otak saya terlalu becek jika dibandingkan ‘akal sehat’ teori-teori fisika kuantum dalam buku ini. Meskipun begitu saya tetap tertarik untuk membedah buku ini dan berharap para fisikawan muslim bisa ikut urung rembuk menyikapi pandangan sang Professor.

 

Fisika Kuantum Hawking yang sebenarnya berorientasi dari landasan berpikir Imanuel Kant (seorang penganut paham materialis) bahwa alam memperkenankan sejumlah kemungkinan kejadian yang berbeda, masing-masing dng peluang tertentu utk terjadi.

 

Percobaan Buckyball (dijelaskan dlm buku) ttg bola yang ditendang melalui celah yg terbuka memberikan jawaban bahwa tdk ada bola yang berhenti di posisi yang pasti/sama karena itu selalu ada probabilitas atau kemungkinan. Teori kemungkinan juga dijelaskan dalam menghitung konsep ruang dan waktu. Bila ada dua orang pengamat menghitung waktu yg digunakan oleh cahaya yang bergerak dari ekor ke hidung pesawat maka keduanya akan memberikan hasil yg berbeda meskipun aktifitas fisik cahaya terlihat sama oleh kedua pengamat tersebut. Efek ini kemudian oleh Enstein melahirkan teori special relativity atau relatifitas khusus sehingga waktu dianggap tidak bersifat mutlak seperti yg disampaikan Newton, dengan kata lain mustahil menetapkan waktu yg sama oleh sekian banyak pengamat.

 

Contoh lain dijelaskan Einstein bahwa waktu dan ruang sangat terkait satu sama lain sehingga tidak ada ‘sesuatu yg pasti’ misalnya pada percobaan atomic clock bulan Okt 1971 di mana satu jam atom yg sangat akurat dibawa mengelilingi dunia dan ketika pesawat berrgerak ke timur maka terdapat kemungkinan satu per 180 miliar detik utk setiap satu jarak keliling dunia, di mana seseorang akan lebih muda dibandingkan orang yg bergerak ke barat. Meskipun efeknya sangat kecil namun ini menjelakan bahwa tidak ada angka yang pasti utk menghitung presisi waktu karena bergantung secara mutual pada ruang.

 

Selain beragam percobaan fisika yang dijelaskan secara detil dan seringkali membuat kening berkerut, ehm.. setidaknya kening saya yang awam ini-buku Hawking juga memberi beberapa gambaran filsafat metafisika tentang alam semesta yang ternyata kentara sekali berbumbu materialis. Saya ingin fokus pada pokok persoalan yang disampaikan Hawking dan Mlodinow bahwa segalanya dapat diuji dan diukur oleh Teori M. Apa itu Teori M, Hawking sendiri tidak tahu arti kata ‘M’ karena teori ini digagas oleh Einstein, namun setidaknya teori ini mengungkap bahwa alam semesta yang terdiri dari ratusan miliar bintang dan galaksi mengembang secara bersamaan dari waktu ke waktu sehingga setiap bagian dari galaksi memiliki hukumnya sendiri-sendiri.

 

Bumi bukanlah pusat alam semesta, meskipun bumi sangat dekat dengan matahari namun galaksi lainnya juga

tercipta dengan tatanannya sendiri sehingga keberadaan bumi di alam semesta bukan sebagai obyek yang istimewa. Dari sini Hawking berusaha menjelaskan bahwa keberadaan manusia di muka bumi terjadi karena kebetulan saja. Dan prinsip2 kebetulan ini bila saya kembali pada pemikiran Kant tadi bahwa “apa pun yang mustahil harus dianggap mungkin” sehingga kita tidak perlu mempertanyakan kenapa Tuhan meletakkan manusia di bumi (galaksi bima sakti) bukan di ratusan miliar galaksi lainnya.

 

Hawking selalu berdalih dengan teori kemungkinan, dualisme, realisme bergantung model dan yang lainnya yang sepertinya sangat dipaksakan untuk dipahami, dan ketika itu diyakini maka kita akan berpikir dengan kerangka berpikir scientific tanpa mengundang keterlibatan iman atau akal budi. Pokok mendasar dari buku The Grand Design adalah bahwa hukum-hukum alam bekerja di alam semesta itu sendiri dan pada setiap galaksi memiliki hukum yang berbeda-beda, termasuk hukum ruang dan waktu. Tuhan tidak terlibat dalam mengatur hukum-hukum tersebut karena tidak ada satu hukum yang bekerja dengan hasil yg sama, sehingga teori kemungkinan-kemungkinan di jagad raya mematahkan teori absolut Tuhan.

 

Yang menarik Hawking selalu memberikan contoh sejarah penciptaan alam semesta dari kisah-kisah mitos suku-suku yang ditengarai menganut animisme, meskipun di dalam setiap bab bukunya ia hanya menjelaskannya sebagai bagian dari cerita saja. Hawking juga mencoba mematahkan konsep lahirnya alam semesta dari injil. Sayangnya ia tidak membuka Al-Quran dan mencari jawabannya di sana. Seluruh teori yang dijelaskan dalam buku The Grand Design akan mental dengan sendirinya oleh satu ayat dalam Al-Quran (Yasin 82) –  Verily, when He intends a thing, His Command is, “be”, and it is! Sesungguhnya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.

 

Wallahu a’lam

 

Catatan : Jadi dari pada membaca The Grand Design karya Stephen Hawking mending membaca The Greatest Design karya Zaynur Ridwan, yang Greatest pastilah lebih besar dari pada Grand.. Halah, promo kaleee….

  • Zaynur Ridwan adalah penulis Novel The Greatest Design dan Novus Ordo Seclorum
Iklan
Published in: on 23 Januari 2011 at 14:10  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://mugiwaranonakama.wordpress.com/2011/01/23/tuhan-tidak-terlibat-penciptaan-alam-semesta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: