Mengenal Snouck Hurgronje, Sosok Orientalis Politik Hebat bagi Kerajaan Kolonialis Belanda

Saya melakukan idharul (atau izharul, pen.) Islam karena hanya dengan begitu saya bisa diterima di kalangan primitif, seperti Indonesia.”

(Surat Snouck Hurgronje untuk orientalis Jerman terkemuka yang juga gurunya di sebuah Universitas di Strassbourgh, Theodore Nuldeke).

Orang Aceh, terutama para ulama di Aceh pasti kenal betul dengan orientalis yang satu ini.

Bernama lengkap Christian Snouck Hurgronje, lahir pada tanggal 8 Februari 1857. Menurut catatan Rizki Ridyasmara dalam bukunya “Gerilya Salib di Serambi Mekkah,” menulis bahwa ia adalah anak dari hasil kumpul kebo kedua orangtuanya sehingga menyebabkan kedua orangtuanya ditolak oleh gereja:

“Awalnya, perkawinan kedua orangtuanya itu di dahului oleh hubungan kumpul kebo hingga dikeluarkan dari komunitas Gereja Hervormd di Tholen (Zeeland) pada tanggal 3 Mei 1849. Ketika itu ayah Snouck telah memiliki enam anak. (lebih…)

“ANATA DAKE ZUTTO MITSUMETEIRU NO”

Oleh Mugiwara No Nakama

Kisah ini adalah fiksi. Nama, tempat, waktu kejadian/peristiwa, semuanya hanyalah rekayasa belaka . Jika terjadi kesamaan itu hanyalah kebetulan semata….

Cerpan ini terinspirasi dari lagu Shin Ai (Mizuki Nana), dorama Hana Yori Dango 1 & 2 terus versi movienya HYD Final, lagu Shasibi (OST. Final Fantasi), Sakura (Ikimono-gakari), Mendung kan Berganti (Mikha Tambayong), Menangis Tanpa Airmata (Gretha), Memeluk Bulan (Rossa), Opening Song & Ending Song Code Geass Lelouch Rebellion, Bungong Istana (Murad Sartiwa), Kon Salah Kanda (Cut Keumala Hayati), Pungo Mubayang (Ramlan Yahya), Kelembu Biru (Maimun), Aku dan Kenanganku (Second Civil), Bukan Cinta Biasa (Afghan), Puaskah (Wali Band), Ku Pasti Kembali (Pasto), Sea (YUI), I Remember You (YUI), Resiko Orang Cantik (Black Out), Next Level (Yu-Ki—OST Kamen Rider Kabuto), Gomenasai, Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa (Indah Dewi Pratiwi), Pilihan Hatiku (Lavina), Hari Bersamanya (Sheila On 7), Adam dan Hawa (Marsya) dan sebuah peristiwa tak terduga yang pastinya menyenangkan hati ini, yang takkan pernah terlupakan seumur hidup ^ ^ ….

(lebih…)

Published in: on 5 Agustus 2010 at 13:38  Tinggalkan sebuah Komentar  

MENGUPAS TUNTAS PORNOGRAFI

Oleh: Mugiwara No Nakama

A. Definisi Pornografi

Menurut Abu Al-Ghifari (2004), pornografi berasal dari kata yang diambil dari bahasa Yunani, yaitu “Porne” dan “Graphien.” Porne berarti wanita jalang dan Graphien berarti tulisan. Dalam pengertian yang lebih luas, pornografi berarti tulisan, gambar, lukisan, tayangan audio-visual, pembicaraan dan gerakan-gerakan tubuh yang membuka anggota tubuh tertentu secara vulgar yang semata-mata untuk menarik perhatian lawan jenis[i].

Sedangkan menurut RP Borrong dalam tulisannya di laman Lembaga Sabda[ii] menjelaskan bahwa kata pornografi, berasal dari dua kata Yunani, “Porneia” yang berarti seksualitas yang tak bermoral atau tak beretika (sexual immorality) atau yang popular disebut sebagai zinah; dan kata “Grafe” yang berarti kitab atau tulisan. Kata kerja porneuw (porneo) berarti melakukan tindakan seksual tak bermoral (berzinah = commit sexual immorality) dan kata benda pornh (porne) berarti perzinahan atau juga prostitusi. Rupanya dalam dunia Yunani kuno, kaum laki-laki yang melakukan perzinahan, maka muncul istilah “pornoz” yang artinya laki-laki yang melakukan praktik seksual yang tak bermoral. Tidak ada bentuk kata feminin untuk porno. Kata grafh (grafe) pada mulanya diartikan sebagai kitab suci, tetapi kemudian hanya berarti kitab atau tulisan.

Ketika kata itu dirangkai dengan kata porno menjadi pornografi, maka, lanjut Borrong, yang dimaksudkannya adalah tulisan atau penggambaran tentang seksualitas yang tak bermoral, baik secara tertulis maupun secara lisan. Maka sering anak-anak muda yang mengucapkan kata-kata berbau seks disebut sebagai porno. Dengan sendirinya tulisan yang memakai kata-kata yang bersangkut dengan seksualitas dan memakai gambar-gambar yang memunculkan alat kelamin atau hubungan kelamin adalah pornografi.

Borrong melanjutkan, (lebih…)

Published in: on 2 Juli 2010 at 15:18  Tinggalkan sebuah Komentar  

Menjadi Cerdas dengan Kertas

Oleh: Dr. Ing. Fahmi Amhar

Disalin kembali dari Media Umat

Pameran buku (Book Fair) adalah ajang yang ditunggu-tunggu baik oleh para penerbit, distributor maupun penggemar buku.  Meski demikian konsumsi buku per orang di Indonesia masih tergolong sangat rendah.  Bagi sebagian besar masyarakat kita, harga buku masih tergolong tinggi dibanding tingkat penghasilan.  Jadilah masyarakat kita bukan masyarakat pembaca.  Minat baca mereka rendah dibanding menonton televisi.  Sebenarnya tidak jadi soal bila siaran televisinya bermutu.  Namun semua orang tahu bahwa siaran televisi kita belum cukup edukatif, apalagi inspiratif.  Televisi kita sarat dengan tayangan gossip, pornografi, kekerasan ataupun mistik.  Bisa dinikmati bebas tanpa membayar.  Yang jelas hasilnya tidak membuat penonton bertambah cerdas.

Lain dengan buku.  Mahalnya buku antara lain disebabkan oleh tingginya harga kertas.  (lebih…)

Published in: on 15 April 2010 at 18:25  Comments (1)  
Tags: , ,

KETIKA KITA ‘MALAS’ MENULIS

oleh Teuku Zulkhairi, Mahasiswa IAIN Ar-Raniry Aceh

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, sekretaris redaktur Tabloid Peunawa Lembaga Kajian Agama dan Sosial(LKAS)

Menulis dalam Islam adalah “kewajiban” kedua setelah perintah untuk “membaca”. Menulis berarti menyimpan apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan tulisan, kita bisa berdakwah(menyebarkan kebenaran), mengajari, menyebarkan ide dan pemikiran, melontarkan gagasan, menyampaikan kritikan atau hanya sekedar memberi tanggapan. Sebaliknya, dengan tulisan seseorang bisa juga menyebarkan kebatilan, merusak moral, mem-provokasi, menghina, menghasut, memfitnah, dan berbagai propaganda yang akan membawa kepada kehancuran lainnya. (lebih…)

Published in: on 17 Maret 2010 at 15:32  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

EMAIL-EMAIL MEDIA, YUK KIRIM YUK!

Oleh: Alimuddin Mansu

Temans, kalau punya karya atawa naskah, ngapain cuma dipamerin diblog. Yuuk kita kirim. Di blog ini, saya pribadi banyak sekali temukan tulisan-tulisan yang harusnya bisa masuk ke Koran. Ya karena nggak dikirim, makanya nggak dimuat dong!

Jangan berdalih nggak pede deh! Kalau berdalih begitu, sampai kapan? Sampai kiamat? Hihi… kelamaan nek! Penting kirim dulu! Itu jadi ajang untuk mengukur kemampuan menulis kita lho.

Ini saya lampirkan beberapa email media. Teman-teman bisa kirimkan naskahnya ke sini. (lebih…)

Published in: on 11 November 2009 at 17:26  Comments (1)  
Tags: